Kisah Fauziah, Dokter Cantik yang Mening gal Dalam Baku Tembak Saat Tengah Ha mil

dr. Fauziah, nama itu kini telah ditabalkan sebagai nama rumah sakit umum milik pemerintah di Kabupaten Bireuen. Dedikasi dokter ini luar biasa, sampai nyawanyapun terenggut paksa akibat konflik.

Kisah perjuangan dr Fauziah sang dokter perempuan dari Kemukiman Bugak Kecamatan Jangka, dalam menyelamatkan nyawa orang lain, sampai membuat nyawa sendiri melayang dengan peluru tajam, patut diberi apresiasi dan dikenang. Sebagai sebuah dedikasi yang totalitas.

Sang dokter yang merupakan perempuan asli kelahiran Bugak Krueng Mate, 24 Juli 1967. Ia meninggal dunia dalam peristiwa kontak senjata antara GAM dan PPRM di Gampong Cot Kruet perbatasan Alue Gandai pada tanggal 25 Mei 1999 silam. Jenazah dr.Fauziah di kebumikan di Gampong Bugak Krueng Mate di komplek perkuburan keluarga.

Dalam rangka mengenang hari meninggalnya dr.Fauziah yang tinggal menghitung hari di bulan Mei 2015 ini, wartawan juangnews.com menulis kisah sang dokter yang namanya sudah dinobatkan untuk nama Rumah Sakit Umum Daerah Bireuen (RSUD dr. Fauziah Bireuen) melalui Surat Keputusan Bupati Bireuen Nomor 017 Tahun 2001 Tanggal 27 Januari 2001.

Pada malam itu Senin, 24 Mei 1999 Pukul 02.00 Malam. Jul yang merupakan Intel TNI dari Aceh Utara ditembak orang tak di kenal. Pak Jul begitu pria itu kerap disapa, tinggal di kawasan transmigrasi Gampong Alue Kuta, Kecamatan Peudada, Kabupaten Aceh Utara (sekarang Kabupaten Bireuen). Ia saat itu ditugaskan untuk memata-matai kegiatan GAM di kawasan Transmigrasi Gampong Alue Kuta.

Padahal sembelumnya, pada tahun 1990 pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) beberapa warga sudah sering melihat Pak Jul tinggal di Pos TNI Gampong Dayah Mon Ara, Kemukiman Pintoe Batee, Kecamatan Peudada.

“Ketika tahun 1999 ia diterima warga untuk tinggal di kawasan Transmigrasi Gampong Alue Kuta. Pak Jul bilang sama warga bahwa ia sudah dipecat dari TNI, makanya warga mengizinkan Pak Jul untuk tinggal di kawasan transmigrasi saat itu,”ujar Abdullah A.Jalil saksi mata yang masih hidup dalam peristiwa meningganya dr Fauziah menjawab juangnews.com Sabtu, (9/5/2015) kemarin, saat di temui di Gampong Cot Kruet perbatasan Alue Gandai

Abdullah melanjutkan kisahnya, pada tahun 1999, Pak Jul masih aktif sebagai TNI, ia saat itu ditugaskan untuk memantau kegiatan GAM di kawasan Trasmigrasi Gampong Alue Kuta Kecamatan Peudada.

Setelah beberapa bulan tinggal di kawasan trasmigrasi, Pak Jul pada Senin, 24 Mei 1999 sekira pukul 02.00 wib dini hari, ditembak oleh orang tak dikenal di tempat tinggalnya di kawasan trasmigrasi itu.

Kata Abdullah, malam itu setelah mendengar suara letusan senjata api, warga tidak berani keluar rumah. Pada Selasa paginya, 25 Mei 1999 masyarakat transmigrasi baru menjenguk ke rumah yang ditempati Pak Jul.

“Ternyata Pak Jul dan seorang pemuda yang menemaninya sudah tidak bernyawa lagi. Setelah melihat jenazah Pak Jul, kepala desa memberitahukan informasi itu pos Koramil Peudada. Geuchik Transmigrasi dan sekretarisnya berangkat ke kantor Polsek/Koramil Peudada untuk melaporkan kejadian tersebut pada Komandan Koramil Pak Ngadimin,” kisah Abdullah A.Jalil

Atas laporan tersebut, Koramil Peudada meminta bantuan Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) (Pasukan di bawah TNI) di Bireuen, untuk menjembut jenazah di Alue Kuta. Namun, pada saat sebelum berangkat menuju lokasi, pasukan PPRM mengajak dokter Fauziah Cs untuk ikut bersama rombongan PPRM dengan menumpang truk reo yang mereka tumpangi.

dr. Fauziah pada saat itu, menjabat sebagai Kepala Pukesmas Peudada. Saat itu dr. Fauziah tidak pergi sendiri, ia ditemani Mustafa dan beberapa perawat di Puskesmas Peudada.

Karena dalam kondisi hamil muda, pada awalnya dr. Fauziah keberatan untuk pergi bersama PPRM. dr. Fauziah meminta pergi menggunakan mobil dinasnya, tetapi pihak PPRM di Bireuen tidak memberikan izin.

“Pada saat itu dr Fauziah tidak diizinkan untuk pergi dengan menggunakan mobil dinasnya, mereka beralasan nanti jika dihadang di jalan tifak ada yang bertanggung jawab,” jelas Abdullah.

Abdullah menceritakan lagi, sembelum berangkat dr.Fauziah sempat tetap bersikukuh ingin membawa mobil dinasnya, karena kurang enak badan karena sedang hamil, tetapi pihak RPPM tetap tidak memberikan izin.

“Setelah itu dr. Fauziah beranjak naik ke truk PPRM dan disuruh duduk di depan, sebelah kiri sopir diapit pegawainya Mustafa di sebelahnya, sementara di luar pintu kiri berdiri salah satu anggota Polsek Peudada bergantung pada gagang spion karena tidak muat di dalam terpaksa bergantung di depan sebelah kiri,” cerita pria akrab di sapa Abu Nek Peudada.

Abdullah melanjutkan kisahnya, ketika sampai perbatasan antara Gampong Cot Kruet-Alue Gandai, Kemukiman Pintoe Batee, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, tepatnya pukul 10.15 pagi. Pada Selasa, 25 Mei 1999, truk PPRM dihadang oleh beberapa Personil anggota GAM Sagoe Tgk di Lancok.

Dalam peristiwa penghadangan tersebut, terjadilah kontak senjata lebih kurang empat jam. Tembakan peluru dari arah bukit semak belukar yang berjarak sekitar lima meter lebih membuat pasukan PPRM tak bisa mengelak. Letusan peluru dalam kontak tembak tersebut membuat dr. Fauziah dan Mustafa meninggal dalam kontak senjata tersebut, sedangkan sejumlah aparat keamanan menderita luka tembak.

“Pada waktu itu sepertinya dr. Fauziah tertembak di bagian dadanya dan perutnya yang sedang hamil, sehingga menghembuskan nafas terakhir,” cerita Abdullah di dampingi beberapa warga lainnya.

Kini nama dr. Fauziah sudah dinobatkan untuk nama Rumah Sakit Umum Daerah Bireuen. Pengukuhan nama dr. Fauziah ini, tertuang melalui Surat Keputusan Bupati Bireuen Nomor 017 Tahun 2001, tanggal, 27 Januari 2001.

dr. Fauziah dilahirkan di Desa Bugak Krueng Mate, pada 24 Juli 1967, meninggal 25 Mei 1999. Untuk mengenang tragedi yang mengharukan itu, warga Peudada pada tahun 2015 ini akan membangun sebuah monumen tempat meninggalnya dr. Fauziah di Gampong Cot Kruet, perbatasan Alue Gandai.

Hal ini dilakukan oleh warga, supaya sejarah meninggalnya dr.Fauziah diketahui oleh generasi Bireuen mendatang. Masyarakat Kecamatan Peudada akan membangun monumen meninggalnya sang dokter ketika menyelamatkan nyawa manusia, sampai membuat nyawanya pun ikut melayang.

Ketua Panitia Pembangunan Monumen dr. Fauziah, yang diketuai Abdullah A.Jalil dalam tahap awal ini mereka sudah membangun balai ukuran 4x 9 meter.

“Recananya kami mau membangun monumen. Tetapi, karena belum ada dana maka kami bangun dulu balai,” ujar pria yang akrab di sapa Abu Nek Peudada. Mudah-mudahan Pemerintah Kabupaten Bireuen dan DPRK Bireuen tergerak hatinya untuk mengalokasikan dana untuk niat suci ini. (Juangnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *