Legenda Gajah Putih Sebagai Asal Nama Kabupaten Bener Meriah

Dahulu kala di negeri Antara hiduplah seorang pemuda tampan bernama Sengeda. Dia adalah putra dari Raja Linge. Sengeda adalah seorang pemuda yang santun, cerdas dan rendah hati.

Ia sangat dicintai oleh rakyatnya dan dihormati oleh putra-putra raja lainnya.

Sebenarnya Sangeda memiliki seorang abang yang bernama Bener Meriah. Ia melarikan diri ke hutan karena difitnah hendak menentang raja.

Ia merasa sedih jauh dari sanak keluarga. Di hutan belantara ia bertapa. Ia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih. Ia melakukan hal itu agar dapat diterima kembali oleh keluarga besarnya.

Sementara itu, pada suatu malam, Sengeda bermimpi tentang seekor gajah putih. Gajah tersebut mengamuk dan mengobrak-abrik kerajaan Linge.

Dalam mimpinya juga ia bermimpi bertemu dengen Reje, gurunya. Sangeda yakin, gajah putih itu adalah jelmaan abang kandungnya.

Oleh karena itu, sang guru mengajarkan bagaimana cara menjinakkan gajah tanpa membunuhnya.

Sangeda segera terbangun dari tidurnya, ia menghapalkan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh gurunya di dalam mimpi.

Awalnya memang seperti gerakan bela diri, mirip apa yang pernah ia pelajari di Bukit Gelang Gele. Tetapi semakin lama ia bergerak, ia terlihat seperti menari. Tarian inilah kelak disebut dengan “Tari Guel”.

Keesokan harinya, kehebohan terjadi Kerajaan Linge. Seekor gajah putih mengamuk di alun-alun kerajaan. Para penduduk melempari dan menyoraki gajah itu sejak masuk pintu gerbang kerajaan, sampai ke alun-alun.

Raja memerintahkan kepada para prajurit kerajaan agar memanggil semua pawang dan orang sakti untuk menjinakkan si gajah.

Namun, seluruh benda tajam dan ilmu kesaktian yang digunakan tak mampu membuat gajah putih itu bergeming.

Sangeda merasa sedih. Ia tahu bahwa gajah putih tersebut adalah jelmaan dari abang kandungnya, lalu ia menghadap ayah kandungnya.

“Ayahanda, izinkan ananda menjinakkan si gajah putih,” kata Sengeda. “Benarkah?” Kata raja ragu. “Dengan izin Allah, dan restu ayahanda,” Sengeda meyakinkan.

Sengeda berangkat ke alun-alun diiringi teman-teman seperguruannya. Ia menaiki gajah hitam dengan diikuti Reje, gurunya. Sengeda memerintahkan para penduduk kerajaan Linge untuk tidak menyerang gajah putih. Ia meminta rakyat menabuh bunyi-bunyian.

Tambur (dalam bahasa Gayo: tamur), canag (gamelan), gegedem (rapa’i atau rebana), sampai gong, semua ditabuh. Para ibu diminta memukul lesung padi atau jingki. Bunyi-bunyian itu akhirnya dapat menenangkan si gajah putih.

Lalu, tiga puluh pemuda yang berasal dari berbagai desa diperintahkan untuk membentuk setengah lingkaran mengelilingi gajah putih sambil bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan memuji kebaikan-kebaikan Bener Meriah.

Perlahan-lahan Sengeda bergerak menari dengan irama yang agak perlahan. Gajah putih itu mulai bangkiy dan bergerak maju mundur di tempat.

Lambat-laun gerak tari terasa berirama gembira. Gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai gerakan tari Redep.

Gajah putih mulai berjalan, mengikuti Sangeda. Lalu, irama musik semakin riang gembira dan kencang dyang disebut Cicang Nangka.

Berjalanlah gajah putih ke istana. Raja Linge telah berdiri di pintu (umah pitu ruang) untuk menyembut si gajah putih.

Ine atau ibu dari Sengeda dan Bener Meriah bersebuka atau menatap dengan keharuan menyambut anaknya.

Di depan Raja Linge, gajah putih menunduk dan menghormat layaknya seorang anak sujud pada orang tua. Air mata mengalir dari kedua belah matanya.

Sengeda menceritakan siapa sesungguhnya gajah putih ini. “Ayah, Bunda, sebenarnya gajah putih ini adalah kakanda Bener Meriah.

Dia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih karena malu atas fitnah, kini ia ingin kembali ke tengah keluarga,” maka terharulah Raja Linge dan permaisurinya.

Kabar keberadaan gajah putih yang sakti tersebar sampai ke ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan Aceh sangat tertarik, maka beliau meminta Kerajaan Linge agar memberikan gajah putih itu kepada Sultan Aceh.

Dengan berat hati, akhirnya Raja Linge menyerahkan si gajah putih kepada Sultan Aceh. Sejak itu, gajah putih dipelihara sebagai kesayangan Kesultanan Aceh Darussalam.

Saat ini nama Bener Meriah dijadikan sebagai nama sebuah Kabupaten di Aceh, pemekaran dari Aceh Tengah.

Gajah Putih (Gajah Puteh) dijadikan simbol ksatria Kodam I Iskandar Muda di Provinsi Aceh.

Sikap Bener Meriah dalam menjaga kehormatan diri dan keluarga dilambangkan dengan rencong (badik) yang terselip di pinggang mempelai pria ketika melaksanakan resepsi pernikahan. sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *