Mengintip Keramat Alquran Wangi Milik Wali Songo di Aceh

Bintang Daud melingkari kalimat tauhid dengan hiasan daun di sebelah kiri dan kanannya. Kelopak bunga dan renda putih yang menjuntai ke bawah, menambah keindahan kaligrafi bersulam emas di atas kain merah berukuran 40×60 sentimeter itu.

Kain itu dibentang di atas pintu masuk di kiri ruang tengah sebuah ruangan. Sebuah rak berisi tumpukan ‘surat Yasin’ ditaruh tepat di depan pintu ruangan kecil seluas 1×3 meter itu, sementara, sajadah, dan beberapa mukena yang tampak kumal ditumpuk di sudut ruangan.

Di sebelah kiri rak terdapat sebuah lemari yang pintunya terkunci rapat. Sementara itu, di ruang tengah yang bersisian dengan ruang tadi, terhampar tikar pandan dan sajadah, pertanda seseorang pernah beribadah di tempat itu.

Saat dikunjungi, temperatur bangunan yang kira-kira seluas gazebo itu terasa panas. Hari yang terik, ditambah ventilasi yang dibiarkan tidak terbuka membuat suasana semakin pengap.

Di luar, sejumlah pekerja bangunan sedang asyik selonjoran dengan bertelanjang dada di atas balai kayu. Mereka sedang menikmati angin sepoi-sepoi yang berembus dari arah persawahan seraya bercengkerama.

Selagi itu, Cut Maneh (60) sibuk mencoba satu persatu kunci di tangannya. Setelah lemari terbuka, dia mengambil gulungan kain berwarna kuning yang ditaruh di atas rehal hitam dengan hati-hati.

Gulungan kain dibuka sedikit demi sedikit hingga terlihat tonjolan mushaf Alquran berwarna cokelat dengan ketebalan tak lazim.

Kain yang menutupi kitab berusia diperkirakan 700 tahun itu tidak semua dibuka oleh Cut Maneh.

Perempuan paruh baya itu takut menodai kesucian kitab tua tersebut. Mau tidak mau, dia harus menyentuh Alquran itu saat menaruhnya kembali ke dalam gulungan kain, sementara dia dalam keadaan tidak berwudu saat itu.

“Aduh! Lupa pula tadi mengambil wudu di rumah,” ujar juru kunci kompleks Alquran Panton Reu atau Alquran Wangi itu, kepada Liputan6.com, Selasa siang, 12 Februari 2019.

Alquran Panton Reu, selanjutnya disebut Alquran Wangi, berada di Kampung Meugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat. Kitab yang berandil dalam penyebaran Islam di Aceh ini, disimpan di dalam sebuah bangunan semi permanen di pelosok desa tersebut.

Liputan6.com menempuh perjalanan sejauh 33 kilometer lebih atau beberapa jam perjalanan dari pusat kabupaten menuju lokasi. Medan berkelok, aspal yang berlubang, dan terkadang berdebu menemani perjalanan.

Peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim

Untuk mencapai lokasi Alquran Wangi berada, mesti melewati jembatan gantung khusus kendaraan roda dua yang bergoyang dan berdentum ketika dilalui. Bagi yang tidak terbiasa, akan bergidik, terlebih sebagian kayu jembatan terlihat patah di beberapa titik.

Semakin mendekati lokasi, akan terlihat hamparan sawah terbentang bak lukisan dengan latar belakang perbukitan. Sebelum mencapai bangunan tempat Alquran Wangi disimpan, beberapa kandang lembu terlihat di sisi kiri jalan setapak berkerikil.

Melalui Sang Juru Kunci sebelumnya, Tgk Meurah Hasan, diketahui, Alquran Wangi merupakan peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang dibawa dari tanah Arab pada Abad ke-13, atau 1235 Masehi. Sebelum berdakwah ke Pulau Jawa, dan menjadi angkatan pertama Wali Songo, ulama ini sempat singgah di Pasai atau Kerajaan Peureulak, Aceh Timur saat ini.

“Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki 2 orang putra, Malikus Saleh, dan Abdul Samad. Abdul Samad menetap di Pidie, dan Alquran itu juga dibawa. Di Pidie, Abdul Samad mengembangkan agama Islam,” sebut Tgk. Meurah Hasan, kepada Liputan6.com, Selasa (12/2/2019).

Anak Syekh Maulana Malik Ibrahim bernama Abdul Samad juga memiliki 2 orang putra, yakni, Tengku Din dan Tengku Chik Adam. Belakangan, Tgk Chik Adam berangkat ke Aceh Barat, tepatnya, ke Kampung Mugo Rayeuk saat ini, dan membawa Alquran yang bertulis tangan tersebut bersamanya.

Tgk Chik Adam punya 4 orang putra, bernama, Tgk Jambo Awe, Tgk. Bintara, Tgk. Ahmad, dan Tgk. Hasyim. Di kemudian hari, Tgk Jambo Awe memiliki keturunan yang silsilahnya menyambung ke Tgk Meurah Hasan, yang tak lain merupakan anak Cut Maneh.

“Saya generasi ke-21 dari Syekh Maulana Malik Ibrahim,” ungkap Tgk Meurah Hasan, juru kunci Alquran Wangi sejak 2007 dan sudah setahun ini diangkat sebagai Penjaga Makam Teuku Umar.

Saat ini, Tgk Meurah Hasan memercayakan Alquran yang berumur ratusan tahun itu kepada Cut Maneh. Sementara, dari pagi hingga menjelang sore, dia berada di Makam Teuku Umar, meladeni para pengunjung yang berziarah atau melepas nazar ke makam salah satu pahlawan nasional itu.

Asal Usul Penyebutan Kata ‘Wangi’

Penyebutan kata ‘wangi’ pada Alquran Wangi sejatinya merujuk kertas yang menjadi bahan dasar Alquran tersebut. Kertas Alquran Wangi berasal dari kayu yang dinilai langka dan hanya ada pada masanya.

Para ahli yang pernah meneliti Alquran tersebut yang menyematkan kata ‘wangi’. Alquran ini mengeluarkan aroma kertas orisinal yang tidak ditemukan pada kertas hasil olahan pabrik.

“Mereka (para ahli) datang sebelum tsunami. Sebelumnya, masyarakat di sini hanya tahu namanya, ‘Alquran Panton Reu’, menunjuk wilayah ini, Kecamatan Panton Reu,” ungkap Tgk Meurah Hasan.

Keramat Alquran Wangi

Al Quran Wangi dipercaya keramat. Sekali bersumpah dengannya, sumpah tersebut tidak boleh dilanggar jika tidak ingin ditimpa kemalangan.

Menurut tuturan Tgk Meurah Hasan, banyak yang bersumpah dengan Alquran Wangi, tetapi melanggar sumpahnya. Di antara mereka, ada yang meninggal tiba-tiba.

“Makanya tidak ada pejabat yang berani bersumpah dengan Alquran itu. Orang, ada yang mati dalam tempo 3 hari. Ada yang gembung-gembung tubuh. Ada yang tiba-tiba rabun. Macam-macam,” kata Tgk Meurah Hasan.

Karena itu, warga setempat sangat menjaga lisan mereka ketika sedang berbicara mengenai sesuatu hal yang kebenarannya mesti dibuktikan dengan sumpah. Mereka takut keseleo lidah.

Selain itu, jika memasuki kompleks bangunan Alquran Wangi, tidak boleh berpakaian tak sesuai syariat, apalagi berperilaku tak senonoh, jika tidak ingin ditimpa suatu kemalangan.

Akses Tak Bisa Dilalui Kendaraan Roda Empat Saat dikunjungi Liputan6.com, bangunan tempat Alquran Wangi berada sedang dipugar. Sebuah bangunan baru yang lebih luas sedang dipersiapkan tepat di belakang bangunan lama.

Di dalam kompleks bangunan, terdapat tempat beristirahat untuk peziarah. Di dalam bangunan itu Alquran Wangi disimpan, disediakan berbagai keperluan ibadah, seperti yang pernah disebut sebelumnya.

Para peziarah datang dari dalam dan luar Aceh, bahkan dari negeri jiran. Sayangnya, keberadaan Alquran kesohor ini tidak didukung akses yang harus ditempuh para pengunjung untuk mencapai lokasi.

Jembatan gantung menuju kompleks Alquran Wangi hanya bisa dilewati kendaraan roda dua saja. Sementara itu, pengunjung harus menempuh jarak yang tidak dekat untuk mencapai lokasi.

Baik Tgk. Meurah Hasan, maupun Cut Maneh, keduanya berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengganti jembatan gantung dengan jembatan berangka baja yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Ini juga demi memudahkan akses lalu lintas warga desa.

“Karena di situ, terdapat sejarah yang bahkan orang dari luar negeri saja tahu, sayang jika tidak diperhatikan dengan serius,” dia memungkasi.

Bagi Tgk Meurah Hasan dan Cut Maneh, pemugaran percuma jika akses menuju kompleks Alquran Wangi tidak mendapat perhatian. Padahal, Alquran Wangi menandai jejak penyebaran Islam di Nusantara.

Perlu dicatat, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mendapat dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp1,3 miliar untuk memugar sejumlah kawasan yang dianggap sebagai objek wisata, termasuk Alquran Wangi. Itu diungkap Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Aceh Barat, Teuku Nofrizal pada Juni 2018 lalu.

Sumber: Liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *