Jembatan Kabel di Aceh Viral, Begini Kata Plt Gubernur

Berita jembatan kabel di sebuah desa Kabupaten Aceh Barat viral beberapa hari ini. Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, sempat mengklarifikasi kebenaran berita tersebut di akun twitter-nya.

Nova menulis di akun resminya @niriansyah, bahwa video salah satu stasiun nasional tentang jembatan Sikundo diliput pada 2017. Sementara, jembatan kabel Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat sudah dibangun menjadi jembatan gantung pada 2018.

“Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mohon maaf, saya harus mengingatkan, bahwa ini video berita lama. Di lokasi Sikundo sudah dibangun jembatan baru tahun 2018. Terima kasih,” tulis Nova.

Nova mendapat sentilan dari sejumlah pengguna twitter soal cuitannya yang dinilai apriori. Politisi Demokrat ini berjanji akan mengecek ulang kebenaran berita tersebut.

“Bapak dapat informasi dari mana?? Biar lebih akurat sebaiknya turun ke TKP pak,” tulis akun @Ichdarl, yang dijawab Nova, “Baik Ichdarl, saya akan check ulang. Terima kasih”.

Berita jembatan kabel viral sejak fotografer salah satu media asing meliput ke Desa Sikundo pada 2 Februari 2019. Fotografer menjepret sejumlah ibu-ibu dan seorang bocah mengenakan pakaian Sekolah Dasar sedang menyeberang sungai melalui dua utas kabel yang hanya ditopang batang bambu.

Beberapa hari kemudian, sejumlah wartawan lokal dan nasional ramai-ramai meliput ulang. Sejak saat itu, jembatan kabel ini menjadi sorotan nasional.

Kabar tersebut sampai ke telinga Plt Gubernur Aceh. Melalui akun twitternya, Kamis (7/2/2019), Nova menyebut berita jembatan kabel di Desa Sikundo tidak update.

Nova tidak salah. Jembatan kabel di desa terpencil tersebut memang sudah dibangun melalui Anggaran Belanja Pemerintah Aceh 2018, dengan nilai pagu paket lebih dari Rp 1,9 miliar. Namun, jembatan yang dibangun itu, bukan jembatan yang dimaksud, kendati letak kedua jembatan berdekatan.

Kepala Desa Sikundo, Jauhari, kepada Liputan6.com, sebelumnya mengatakan, terdapat dua buah jembatan kabel di desa tersebut. Masing-masing menghubungkan desa dan dusun.

Satu jembatan yang sudah dibangun menjadi jembatan gantung menghubungkan Desa Sikundo dengan Jambak. Sementara itu, yang masih berupa kabel menghubungkan Dusun Durian dengan Sara Sare.

Jembatan yang terakhir disebut satu-satunya akses menuju Sekolah Dasar yang ada di dusun Sara Sare. Selain itu, juga menjadi akses aktivitas warga, karena di dusun itu tinggal 12 Kepala Keluarga.

“Itulah yang menjadi kendala sekolah terbengkalai. Wali murid tidak berani menyekolahkan di situ, karena risikonya besar. Itu SD Negeri Sikundo. Desa Sikundo, memang hanya 2 dusun,” ungkap Jauhari kepada Liputan6.com, Kamis malam (7/2/2019).

Warga Desa Sikundo sudah memanfaatkan kabel sebagai pengganti jembatan sejak 1975. Salah satunya selesai dibangun menjadi jembatan gantung pada 2018.

Jauhari berharap, jembatan yang saat ini masih berupa kabel segera dibangun menjadi jembatan gantung. Warga setempat juga sudah lama memimpikan jalan aspal yang menghubungkan antara Desa Sikundo dengan Jambak.

“Jembatan satu lagi ini, lebih membahayakan, lebih panjang. Jaraknya sekitar 140 meter. Sungainya sama, tapi lebih lebar yang ini. Dan, jalan penghubung desa, ada gunung, becek, bergelombang,” ungkapnya menambahkan.

Sumber: Liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *