Warga Malaysia Dan Australia Desak Pemkab Aceh Utara Pugar Makam Malikussaleh

Warga negara asing asal negeri Malaysia, dan Australia, yakni Datok Seri Jaafar serta Emi meminta kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk memugar kembali Makam Putro Nahritsyah dan Sultan Malik Al-Shalih supaya terlihat bagus dan nyaman dikunjungi wisatawan.

Hal itu disampikan keduanya saat mendatangi makam itu. Mereka sangat menyayangkan melihat kondisi makam sultan yang sepatutnya dilestarikan dengan bagus dan dirawat dengan baik malah terkesan terabaikan.

“Jadi saya hari ini membawa rekan dari Malaysia berkunjung ke makam Sultan Malikussaleh, atau yang mempunyai nama asli Meurah Silu, ini merupakan raja pertama dari Kerajaan Islam Samudra Pasai. Tapi melihat kondisi seperti ini sebagai putra daerah saya malu,” kata Emi putra asal Aceh yang kini menetap dan menjadi penduduk tetap di Australia.

Sambungnya, selain perawatannya yang sangat minim, pengawasan dari pemerintah pun terkesan kurang perhatian, akibatnya, kedua makam tersebut terkesan terabaikan dan tidak terawat.

“Saya rasa Pemkab Aceh Utara kerap devisit anggaran disebabkan karena mengabaikan makam-makam raja Islam yang ada di daerah tersebut,” ungkapnya.

Ia meminta kepada Pemerintah Aceh khususnya Pemkab Aceh Utara supaya memugar kembali makam-makam bersejarah yang ada di kawasan tersebut. Sehingga wisatawan asal luar negeri ketika berkunjung dan ingin mengetahui sejarah Islam di Aceh akan lebih nyaman.

Untuk diketahui, Makam Sultan Malikussaleh merupakan makam bersejarah yang terletak di Gampong Beuringin, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara atau sekitar 17 kilometer sebelah timur Kota Lhokseumawe.

Sultan Malikussaleh, mempunyai nama asli Meurah Silu ini, merupakan raja pertama dari Kerajaan Islam Samudra Pasai. Ia lahir pada tahun 1270 dan wafat pada tahun 1297. Malikussaleh merupakan seorang raja yang saleh dan rendah hati, berkat dari perjuangannya, agama islam berkembang pesat di Aceh dan Malaka.

Sementara Makam Putro Nahrisyah yang terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Seperti dilansir dalam sejarah, Sultanah Nahrisyah binti Sultan Zainal Abidin Malikudhahir (1383-1400 M). Dirinya merupakan seorang wanita yang arif dan bijaksana serta menjadi salah satu wanita di Aceh yang memiliki peran penting di Kerajaan Samudera Pasai.

Kekuasan Samudera Pasai sendiri berlangsung kurang lebih dari abad ke-13 hingga 16 Masehi, yang akhirnya bergabung menjadi satu di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Selain itu, Nahrisyah juga dikenal sebagai wanita yang arif dan bijak, memerintah dengan sifat keibuan dan penuh kasih sayang. Harkat dan martabat perempuan begitu mulia sehingga banyak yang menjadi penyiar agama pada masa pemerintahannya.

Artikel ini telah tayang di AJnn.Net dengan judul WNA Desak Pemkab Aceh Utara Pugar Makam Malikussaleh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *