Mengenang Tsunami Aceh; Manusia tak Berdaya, Mayat-mayat Bergelimpangan, Semuanya Pasrah

26 Desember 2004, sama seperti biasanya masyarakat Aceh melakukan aktivitas. Tak pernah terbayang akan terjadi prahara, bencana, tidak ada firasat buruk, dan tidak pula ada tanda-tanda akan mengalami hal yang luar biasa.

Para nelayan melaut seperti biasanya, pedagang membuka dagangannya, pengemudi roda transportasi, aktivitas pasar disibukkan oleh transaksi jual beli, lari pagi dan jalan santai berlangsung pula sebagaimana tradisi.

Para pegawai bersama keluarga dan anak-anak memadati pantai pantai rekreasi.Tsunami Aceh 2004

Bahkan para muda mudi sudah berada di pantai sejak malam minggu dengan aktivitas yang bernuansa hiburan. Ini merupakan kebiasaan masyarakat kota yang mendiami pesisir Aceh.

Anak-anak yang libur sekolah karena hari Minggu juga melakukan berbagai kegiatan hiburan dan olahraga, ada yang bermain di rumah, dan ada tidur-tiduran sambil menonton siaran televisi.

Para istri dan ibu-ibu rumah tangga melakukan rutinitasnya; ada yang sedang bersantai sambil menonton televisi. Masyarakat lain sibuk pula dengan berbagai kegiatan dan kesibukan masing-masing seperti hari-hari sebelumnya.

Ketika jarum jam menunjuk angka 07.58 WIB, ketenangan dan rutinitas tadi mulai terusik. Rumah, toko, gedung, pepohonan, dan “lat batat kayee batee” bergoyang keras.

Hasil gambar untuk tsunami acehGoyangan itu cukup dahsyat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Aceh. Saat itu, badan manusia limbung, terjerembab ke tanah, dan ada yang harus tengkurap akibat bumi yang bergoyang melebihi goyangan yang pernah terjadi.

Sejurus kemudianbanyak bangunan roboh, bahkan ada yang ditelan bumi. Di beberapa tempat bumi bahkan terbelah, ada yang memancarkan air.

Pagi itu, masyarakat terpaku pada gempa tektonik yang menggoyang daratan Aceh dengan kekuatan 9,4 pada Skala Richter.

Sebagian warga tampak menyelamatkan barang-barang dan harta benda lainnya dari goyangan gempa.

Suara meringis dan tangis terdengar di beberapa tempat. Begitu pula kalimat-kalimat “Lailahaillallah” terdengar dari ucapan orang-orang.

Ketika itu, ada korban yang terjepit dan ada pula yang tertimbun reruntuhan. Tidak cuma itu, yang selamat pun masih harus bersusah payah berupaya membantu orang-orang yang terluka, yang terkena musibah.

Para pedagang di banyak pasar berusaha menyelamatkan harta benda yang mulai tertimbun reruntuhan material, bangunan, atau gedung.

Jalan-jalan dan lapangan dipenuhi warga yang berupaya menyelamatkan diri dari amukan gempa. Tangis wanita dan anak-anak membuat suasana menjadi kian galau.

Suasana panik, hiruk-pikuk, kegalauan, dan kegamangan masyarakat saat itu tak ada yang memandu, tak ada yang menjelaskan apa yang sedang dan akan terjadi.

Masyarakat pesisir atau mereka yang sedang berekreasi di tepi pantai memiliki pengalaman lain, bahkan terkesan unik.

Beberapa detik setelah gempa terjadi, mendadak air laut surut bagai tersedot ke tengah samudera. Banyak ikan menggelepar.Hasil gambar untuk tsunami acehWarga pesisir dan orang-orang yang berekreasi di hari Minggu itu lalu beramai-ramai menangkapi ikan yang kini kehilangan air. Keriangan tampak pada wajah orang orang ini.

Di sisi lain, ada orang per orang yang menyikapi surutnya air laut itu sebagai suatu peristiwa alam yang di luar kebiasaan, logika mereka menyatakan akan terjadi sesuatu.

Orang-orang tersebut segera bermigrasi meninggalkan pantai tanpa terpikirkan sedikit pun akan terjadi gelombang yang maha dahsyat menghantam daratan.

Beberapa saat kemudian, dari kejauhan gelombang tsunami terlihat tengah berlari menggulung mendekati pantai dengan kecepatan tinggi.

Tak ada waktu lagi untuk menjauh, apalagi berlari. Sekejab itu pula terdengar jeritan histeris terdengan kalimat Lailahaillallah, terdengar Allahuakbar.

Suara-suara itu membisu untuk selamanya. Mereka ditelan gelombang besar, terombang-ambing, timbul tenggelam, menuju daratan atau terseret arus dengan kecepatan tinggi.Gambar terkaitGelombang tsunami yang perkasa itu terus saja menjalar ke daratan. suaranya bergemuruh menabrak apapun yang ada di depan atau menghalangi lajunya.

Bangunan yang roboh akibat gempa sebelumnya, dengan mudah dihanyutkan menuju daerah-daerah pesisir dan dataran rendah.

Mobil-mobil mengapung dibawa arus, aspal terkelupas, jembatan dan tanggul patah, jaringan listrik dan sarana komunikasi terputus, rumah-rumah penduduk hancur, dan bangunan-bangunan lain yang berada dipesisir pantai porak-poranda.

Kecepatan air begitu dahsyat sehingga banyak warga yang tak sempat menyelamatkan diri.

Kecepatan berlari seseorang jauh kalah cepat dibanding lajunya gelombang. Dalam sekejap, tubuh-tubuh manusia dilumat dan digulung sekaligus bersama reruntuhan bangunan.

Orang-orang yang berada di dalam rumah, tak sempat lagi menyelamatkan diri. Apa lagi yang masih terlelap pada pagi Minggu itu.

Hanya sedikit dari mereka yang beruntung dan bisa selamat, itu pun penuh dengan keajaiban-keajaiban dan di luar logika manusia.

Mereka yang luput dari maut bermigrasi mencari dan menempati tempat-tempat yang diperkirakan aman dari jangkauan gelombang.

Dengan suara gemuruh, bagaikan seekor naga raksasa lapar, gelombang itu melumat dan merobohkan bangunan pepohonan, rumah-rumah penduduk, lalu menyeretnya ke darat sejauh 7 km, kemudian menarik ke laut dengan kekuatan dan kecepatan yang sama hingga 7 kali.

Dalam waktu 7 menit, tidak kurang tiga ratusan ribu orang yang mendiami daerah pantai Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Pidie, dan Aceh Utara, terapung menjadi mayat.

Sungguh di luar dugaan bahwa gelombang itu muncul dan menghantam daratan Aceh, walaupun mereka pernah mendengar dan meyakini adanya “ie beuna” saat dunia kiamat. Maka ketika air itu mendarat, mereka berpikir dunia sudah kiamat.

Karena itu tidak sedikit orang yang pasrah dengan hanya berucap kalimat Lailahaillallah dan Allahuakbar.

Masyarakat internasional pun terkesima karena istilah tsunami yang mereka pelajari dari berbagai literatur tidak sedahsyat yang terjadi di Aceh.

Para ahli mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif ini bisa disebabkan oleh gempa tektonik, erupsi vulkanik atau land-slide (longsoran).

Kata ‘tsunami’ sendiri diadopsi dari bahasa Jepang, sebuah negara yang kerap dilanda gelombang ini. Kata tsu’ bermakna pelabuhan dan ‘nami adalah gelombang.

Istilah tsunami belum dikenal oleh masyarakat Aceh, tetapi gejala yang sama pernah dikenal oleh masyarakat kepulauan Simeulu (Samudra Hindia) dengan istilah seumong.

Masyarakat Simeulu mewarisi tradisi nenek moyang mereka, lari ke tempat yang lebih tinggi tatkala gempa menggoyang bumi, walaupun gelombang tak kunjung menghantam pemukiman yang mereka diami.

Semoga pada peringatan 14 tahun bencana tsunami Aceh semua kita dapat mengambil pelajaran, agar selalu waspada dan siaga pada bencana.

Hal yang lebih penting adalah senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena dunia ini sudah tua, bencana pun bisa saja terjadi kapan dan dimana pun kita berada. Wallahu A’lam Bishawab

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Tragedi Minggu Kelabu; Manusia tak Berdaya, Mayat-mayat Bergelimpangan, Semuanya Pasrah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *