Tiloe Bahasa Aceh, Seumale Kawoem.

Permasalahan logat “tiloe” sebagian generasi muda Aceh dalam berbahasa Aceh sekarang ini telah memasuki tahap AWAS jika disandingkan dengan level gunung merapi.Terutama bagi yang berdomisili di kota.

Mereka malu untuk fasih berbahasa Aceh, padahal bahasa ini adalah bahasa ibu dan penguatan identitas kedaerahan.

Meskipun kita memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, selayaknya bahasa Aceh juga tidak boleh terlupakan. Malu berbahasa daerah mengakibatkan pudarnya eksistensi kebudayaan yang ada.

Fakta yang terlihat sekarang kebanyakan dari generasi muda Aceh krisis identitas lokal. Padahal generasi muda adalah cikal bakal penerus bangsa.

Apa jadinya bangsa ini ke depan nanti jika dari sekarang pun sudah tidak bisa melestarikan “keneubah endatu” nya sendiri?

Sebenarnya fenomena “tiloe” berbahasa Aceh tidak terlepas dari pengaruh sosialisasi awal yang di bangun oleh orangtua. Tidak jarang ada orangtua yang membiasakan anaknya berbahasa Indonesia sejak kecil dengan harapan akan lebih maju dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Faktor lainnya, arus globalisasi yang semakin gagah menjajah peradaban. Kecanggihan teknologi terus memberikan kemudahan untuk penggunanya terhadap segala sesuatu, namun di sisi lain para individu terjebak dan ketagihan dengan kemudahan-kemudahan yang ada.

Fasilitas internet yang semakin mudah diakses adalah salah satu pengaruh yang luar biasa.

Warkop-warkop di seputaran Kutaradja misalnya, cukup dengan membayar secangkir kopi kita telah bisa mengakses internet sepuasnya.

Komunikasi yang terjalin dengan dunia maya melalui internet tidaklah menggunakan bahasa daerah, melainkan bahasa nasional dan internasional.

Situasi demikian memancing pusaran perubahan perilaku berbahasa generasi muda Aceh.

Beberapa kasus yang sering terjadi, kebanyakan dari remaja Aceh merasa rendah “harga dirinya” jika harus berkomunikasi dengan bahasa lokal, atau ketika seseorang memulai pembicaraan dengan bahasa Aceh tapi malah dibalas dengan bahasa Indonesia.

Contoh :

“Dari pane, Adun?”

“Oh. Baru pulang dari kantor nih.”

Ada juga yang berbicara dengan cara mencampur bahasa Aceh dan bahasa Indonesia. Bahkan terkadang mereka menertawakan saudara–saudaranya yang berbahasa Indonesia dengan logat Aceh, atau parahnya lagi mereka bangga ketika berbicara bahasa Aceh dengan logat yang di“tiloe-tiloe”kan.

Contoh :

“Aduh.. lemik tat lagoe tanoh nyoe.. mesirek aki-aki long nah. Luat teuh kedeh”.

“Idiihh masak harus tijik-tijik sipatu. Kuwet jaroe-jaroe. Malas tat teuh”.

“Dipat na salap anti pegel bang? Long saket aki. Memang susah tat nyeu ta pakek sipatu bak tempat meluhop kan? Lihat keuh, ka kemong aneuk aki long”.

Mereka lah yang disebut “kawoem seumalee kawoem”.

Dibutuhkan kesadaran pribadi, peran orangtua serta lingkungan sosial, untuk meluruskan pemikiran yang keliru tentang sebuah anggapan bahwa bahasa daerah adalah kulot.

Permasalahan tersebut adalah tanggungjawab banyak pihak untuk menanggulanginya.Pahamilah bahwa dengan mempertahankan bahasa daerah sama artinya kita telah mencerahkan eksistensi “keneubah endatu” yang ada.

“Jak u blang tajak koh pade, hase meusampe hareukat beuna”

“ Awai phon punca dudoe nyan akhee, adat budaya beujeut tajaga”

Sumber: Keuneubah Indatu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *