Aceh di Mata Dunia

Setelah berpuluh tahun Aceh berperang dengan Belanda, menguras segala sesuatu yang berharga miliknya, untuk mempertahankan satu-satunya kawasan Islam di Asia Tenggara yang merdeka dari penjajahan, tentu saja, dan sekali lagi, tentu saja, kelumpuhan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

Namun Aceh tidak pernah mati. Berbagai gerak untuk memulihkan diri tetap saja dilakukan oleh putra-putranya yang terbaik bagaimanapun cara, sesulit dan segelap apapun kondisi dan situasi.

Keadaan memang telah memaksanya untuk mengambil apa saja yang mungkin didapatkan demi mempertahankan diri dari kefanaan pada paroh pertama abad ke-20. Maka berlakulah apa yang sudah berlaku.

Namun, seiring waktu dan dengan berbagai perkembangan peristiwa yang terjadi kemudian, “Aceh sebelum kelahiran Indonesia” relatif mulai surut dari ingatan rakyatya, apalagi dari generasi remaja dekade 80-an semisal saya.

Hasil gambar untuk aceh bak mata donya

Penulis “Aceh bak Mata Donya” lantas datang untuk mengingatkan apa yang sudah terlihat kabur, menyegarkan apa yang sudah mulai layu, membangkitkan apa yang nyaris mati untuk selamanya.

Dengan keras ia memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kita keliru dalam menilai diri, dan adalah suatu petaka besar ketika kita terjebak untuk melupakan hakikat diri sendiri; beralih menjadi budak setelah hidup dalam kebebasan dan kemerdekaan dalam kurun waktu yang begitu lama.”

Keliru dalam menilai diri menjadi rintangan yang serius di jalan kebangkitan.

Mengira diri sebagai pengikut dan pengekor bagi yang lain dapat mematikan rasa percaya pada diri sendiri, menghilangkan kemauan dan semangat untuk berada di depan, dan celakanya lagi ialah lahirnya suatu sikap kerelaan yang ganjil untuk berada di bawah dikte-dikte politis dan birokratif, yang setelah sekian lama dijalani terbukti tidak berhasil mengangkat derajat bangsa ini.

Bagaimanapun, bagi saya, Penulis “Aceh bak Mata Donya” adalah penggugah kesadaran, pengingat kembali akan kodrat Aceh sebagai pemanggul tanggung jawab dan amanah yang besar untuk kemajuan kawasan ini sebagaimana di masa lampau.

Hasil gambar untuk aceh bak mata donya

Itulah kodratnya. Dan untuk itulah, Aceh memerlukan kebebasan yang luas untuk memulihkan diri, memperbaiki berbagai kerusakan akibat krisis-krisis yang dialaminya selama satu abad di belakang.

Lepas dari belenggu-belenggu baru yang menghalangi gerak langkah Aceh, baik itu belenggu-belenggu ideologis maupun politis, menjadi tuntutan yang diyakini, diteriakkan dan diperjuangkan oleh Penulis “Aceh Bak Mata Donya”.

Ia tidak melihat jalan lain kecuali jalan yang telah dipilih dan ditempuhnya. Dan meskipun kini ia telah pergi untuk selamanya, tapi siapakah yang mampu memenjarakan dan mematikan pemikirannya yang terus hidup untuk ratusan tahun?!

Sekarang, musim memang telah berganti. Yang sudah berlaku begitulah berlaku, tidak dapat dikotak-katik lagi; takdir dari Yang Maha Kuasa.

Tapi apakah Aceh akan mampu membuang kodratnya? Saya bisa saja melupakan dan menolak kodrat tersebut dan berubah sama sekali. Anda juga bisa begitu.

Tapi apakah Aceh akan bisa seperti saya dan Anda di masa depannya yang panjang? Jika Aceh tidak memiliki saya dan Anda, ia akan memiliki putra-putranya yang lain, yang lebih baik, untuk menjalani kodratnya! Mengapa demikian? Karena masa lalu Aceh akan selalu mampu mengingatkan tentang kodrat itu, bahkan menghidupkan dan menyalakannya.

Jika seseorang sanggup membakar dan memberanguskan masa lalu itu barulah barangkali semuanya mereda, dan dengan begitu Aceh telah pergi untuk selamanya.

Ya, masa lalu Aceh akan selalu mampu mengingatkan akan kodrat itu. Dan jika seseorang, siapa saja dia, berpikir mampu membakar dan menghapus masa lalu Aceh maka pikirannya mutlak keliru dan ia hanya berangan-angan.

Hasil gambar untuk aceh bak mata donya

Lagi-lagi, mengapa? Ya, sekali lagi mengapa? Saya memastikan kepada Anda bahwa jawabannya ialah: karena masa lalu Aceh telah tertinggal, menetap dan tersimpan dengan baik dalam kesadaran Dunia; Aceh bak Mata Donya! Dengan satu atau lain cara, kesadaran itu akan menemukan pemiliknya, pemilik masa lalu itu.

Dunia akan menginjeksikan kembali kesadaran itu ke dalam ruang pikir dan batin pemiliknya, dan takkan ada yang dapat menghentikan itu kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sampai di sini, saya sudah sampai ke permulaan materi yang sesungguhnya hendak dipresentasikan. Yakni, tentang Aceh bak Mata Donya; melihat bagaimana dunia mengingat Aceh lewat satu buku litografi (cetak batu) yang diterbitkan di Singapura pada tahun 1891.

Teks-teks tentang masa lalu Aceh itu telah dirangkai dalam sebuah susunan bertajuk: “Hikayat pada Menyatakan Ceritra Tanah-tanah Melayu serta Pulau Perca dan Sebagainya”.

Dokumen ini diperoleh dari website Acehbooks.org yang disediakan Universiteit Leiden. Litografi itu sendiri merupakan karangan dalam Bahasa Jawi yang sengaja diterbitkan untuk menjadi pelajaran tingkat kanak-kanak di Singapura, Pulau Pinang dan Melaka.

Pada sampul depan tertulis:

“Bahwa inilah hikayat pada menyatakan ceritra tanah-tanah Melayu serta Pulau Perca dan sebagainya yang berguna di dalam tempat belajar kanak-kanak Melayu yang di dalam Singapura, Pulau Pinang dan Melaka yang telah dicapkan bagi kanak-kanak di sekolah dengan kehendak Tuan Inspector of Schools, S.S. (Straits Settlements) yakni Nazhir bagi sekalian sekolah-sekolah gubermen (government; pemerintah) yang di Negeri Singapura, Pulau Pinang dan Melaka. Tercetak di percetaan Kerajaan Singapura, 1891.”

Pada halaman terakhir juga dicantumkan nama penyunting buku ini: Sayyid Mahmud bin ‘Abdul Qadir Al-Hindiy.

Sesuatu yang mesti saya akui secara terus terang mulai dari sekarang ialah kenyataan bahwa sejak usia kanak-kanak sampai dengan remaja saya tidak pernah diajari sejarah Aceh seperti yang diajarkan dalam buku ini!

Sebaliknya, saya merasa aneh dan bertanya-tanya ketika dalam beberapa kali mengunjungi Semenanjung Melayu, saya memperoleh sambutan yang hangat serta penghormatan yang menurut saya tidak layak saya terima. Ada apa sebenarnya dengan saya dan keaasalan yang saya bawa: Aceh?

Mereka nampaknya sudah lebih mengenal Aceh daripada saya sendiri. Sebutan “Aceh”, bagi mereka, seperti mengandung makna magis tertentu yang sulit saya jangkau pada waktu itu.

Saya dibawa berkeliling Negeri Kedah seharian oleh Bang Anwar yang tinggal di Pulau Pinang hanya karena sahabat saya, Teungku Rahmat, Lc, memperkenalkan saya kepadanya sebagai seorang asal Aceh yang ingin melihat Gunung Jerai dan situs-situs sejarah di Lembah Bujang, Kedah.

Ia begitu bersemangat dan tidak habis-habisnya menceritakan tentang sejarah orang-orang Aceh di Pulau Pinang, padahal ia belum pernah sekalipun berkunjung ke Aceh.

Tampaknya, buku pelajaran kanak-kanak dan bacaan-bacaan lain semisal inilah yang telah turut memotivasi munculnya sikap penghormatan tersebut dari generasi ke generasi di Tanah Semenanjung Melayu.

Teks-teks mengenai Aceh dalam buku ini akan saya nukil nantinya, dan saya tidak akan memberikan komentar-komentar sebab yakin Anda telah memahami maksud saya mempresentasikan teks-teks tersebut di sini.

Dalam Fasal Kedua yang diberi judul dengan “Kedatangan Orang Putih”, diceritakan tentang Sultan Iskandar Muda dengan berbagai gerak pembebasan yang dilakukannya, terutama menyangkut pembebasan Melaka dari tangan Portugis.

 

Sumber: Mapesaaceh.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *