Peneliti NASA Ungkap Hajar Aswad Mampu Merekam Semua Orang yang Mengunjunginya.

Mantan pejabat Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang bernama Carnar, masuk Islam lantaran karena menemukan fakta-faka ilmiah tentang sebuah keajaiban malam Lailatul Qadar dan Ka’bah.

Setelah masuk Islam, Carnar kemudian meneliti sebuah fenomena mencium Hajar Aswad.

Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Alquran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid berkata, setelah masuk Islam, Carnar mengatakan bahwa Hajar Aswad mampu merekam semua orang yang pernah mengunjunginya.

Carnar juga mengungkapkan tentang sebagian potongan dari Hajar Aswad yang pernah dicuri.

Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.

Carnar kemudian mendatangi pakar Inggris itu dan melihat sampel Hajar Aswad yang sebesar biji (kacang) hims.

Dia menemukan bahwa batu itu memancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tak terlihat ke segala arah.

Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.

Karena itu, Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam haji atau umroh sekali saja.

Carner menambahkan, batu itu mampu mencatat nama-nama orang yang berhaji dengan radiasi gelombangnya.

Bukti ilmiah ini menunjukkan bahwa hadits Nabi Muhammad SAW telah terbukti kebenarannya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ka’bah itu adalah sesistim tanah di atas air, dari tempat itu bumi ini diperluas.”

Sabda Nabi ini menegaskan bahwa kota Mekah dimana Ka’bah berada, merupakan pusat bumi, dan penelitian ilmiah membuktikan hal ini.

Kebenaran dari sabda Nabi tersebut dibuktikan oleh astronot berkebangsaan Amerika yang menjadi orang pertama menginjakkan kakinya di bulan, Neil Amstrong.

Ketika neil Amstrong sedang melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet bumi, ia berkata,

“Planet bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?”

Selain Amstrong, astronot lain juga menemukan fakta bahwa planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet.

Penemuan ini sempat mengguncang NASA. Penemuan ini sempat dipublikasikan melalui internet.

Namun dihapus setelah 21 hari tayang.

Website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya, seolah memang sengaja dihapus demi kepentingan tertentu.

Meskipun, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui bahwa radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tempat dimana Ka’bah berada.

Yang lebih mengejutkan lagi, radiasi tersebut ternyata bersifat tidak berujung.

Hal ini terlihat disaat para astronot mengambil foto planet Mars. Radiasi dari Ka’bah tersebut masih tetap terlihat.

Para peneliti Muslim pun mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *