Misteri Drum Keramat Peninggalan Konflik Aceh

Konflik sejatinya menyisakan luka. Namun, tak jarang sisa-sisa konflik menjadi peninggalan yang dijadikan lokasi atau benda bersejerah bagi warga untuk mengenang peristiwa pilu itu.

Salah satunya di Aceh, banyak situs bersejarah peninggalan masa konflik. Sebut saja Rumoh Geudong, yang terletak di Desa Billie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie, atau berjarak sekitar 125 Kilometer dari pusat kota Banda Aceh.

Pada masa Daerah Operasi Militer (DOM), Rumoh Geudong menjadi kamp konsentrasi militer sekaligus Pos Sattis (untuk pengawasan masyarakat) bagi pasukan Kopassus.

Di tempat itu pula, orang-orang Aceh yang dituduh terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diduga disiksa dan dibunuh secara tidak manusiawi.

Lain pula halnya di Kabupaten Aceh Barat. Berjarak 14,03 mil dari pusat kota, tepatnya di Desa Peuribu, Kecamatan Arongan Lambalek. Di sana terdapat satu peninggalan masa konflik, berupa sebuah lempengan drum yang dianggap keramat.

Lempengan drum ini sejatinya merupakan bagian dari drum yang dulunya berisi jenazah manusia, yang ditemukan warga setempat pada tahun 2000 silam.

Kepala desa setempat, Amiruddin (47) mengisahkan, saat itu, warga menemukan sembilan buah drum dibuang oleh orang tidak dikenal di semak belukar desa tersebut.

Warga yang curiga, bersama TNI/Polri dibantu instansi terkait mengambil inisiatif membongkar salah satu dari sembilan drum menggunakan linggis, gergaji, dan peralatan lainnya.

Kecurigaan warga terjawab, di dalam drum tersebut, terdapat jasad seorang pria diperkirakan berusia 20 tahun.

“Sejak awal kami curiga, karena dari drum-drum tersebut tercium bau yang begitu menyengat,” ujar Amir, Rabu, 26 September 2018, siang.

Saat konflik sedang bergejolak di Aceh, lumrah ditemukan drum berisi jasad yang diduga dibuang orang tak dikenal. Hampir semua jasad tersebut dicor atau disemen terlebih dahulu. Kondisi jasad-jasad itu mengenaskan.

Kebanyakan jasad yang ditemukan di dalan drum itu bukan merupakan warga setempat. Orang tidak dikenal ini sengaja membuang korbannya ke daerah yang bukan tempat korbannya berasal.

Kemungkinan, hal inilah yang membuat banyak orang hilang di Aceh, tetapi tak diketahui di mana jasadnya berada.

“Anehnya, sama sekali tidak tercium bau busuk dari mayat tersebut. Sebaliknya, seperti ada semerbak wewangian menyeruak dari dalam drum yang baru saja dibongkar itu,” ucap Amir dengan mimik wajah meyakinkan.

Kekagetan Amir dan warga bertambah demi melihat jenazah yang disebut-sebut santri dari salah satu pesantren tersohor di Aceh itu masih mengenakan jam tangan berdetak. “Seolah memberi tanda adanya sebuah kehidupan lain di balik kematian dari si yang punya jam tersebut,” sambung Amir.

Dipercaya Memiliki Tuah

Drom Kramat, Kisah Lain Konflik di Aceh

Suatu kejadian rupanya menambah keyakinan warga bahwa lempengan drum tersebut memiliki tuah.

Ceritanya, setelah jenazah dari dalam drum itu dibawa bersama delapan drum lainnya ke rumah sakit, jenazah itu dikuburkan. Lempengan drum yang sudah dibongkar itu dibuang begitu saja oleh warga ke semak-semak.

Suatu hari, sekitar tahun 2002-2003, seorang warga terkejut, melihat di dalam kebunnya ada satu area yang tak disentuh sama sekali oleh hama atau hewan penganggu lainnya.

Keberadaan lempengan drum yang ada di area kebun itu dianggap sebagai penyebab tidak ada hama dan hewan yang mendekat. Ditambah lagi, hanya di area itulah, semua tanaman tumbuh subur.

“Dari situ, bapak itu berdoa, dan bernazar, kalau tanaman dia tumbuh subur semua, dan hasil panen bagus seperti yang ada di sekitar drum tersebut maka ia akan menyumbang sedikit hasil panennya untuk anak yatim atau fakir miskin, dan dia taruh hasil panennya dekat drum untuk kemudian bisa diambil oleh siapa saja,” kisah Nurwati (35), warga setempat.

Aneh bin ajaib, keinginan sang pemilik kebun tersebut terkabul. Kabar bahwa drum tersebut keramat pun merebak. Saat itu, mulai ada warga yang melepas nazar di lempengan drum tersebut.

Perilaku warga yang mengultuskan keberadaan lempengan drum tersebut ternyata sempat menjadi sorotan. Suatu hari, seorang warga membuang lempengan drum itu ke sungai.

Namun, beberapa hari kemudian, drum tersebut sudah berada di tempatnya semula.

Terdapat kisah lainnya di balik keberadaan drum tersebut. Konon, saat terjadi gempa disusul tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 silam, Desa Peuribu juga terkena imbas.

Saat kejadian, banyak orang yang berkumpul dan berlindung di dekat lempengan drum tersebut. “Yang di situ semuanya selamat. Saat itu, gelombang tsunami seolah tidak mau mendekat ke drum.

Hanya mengitarinya saja,” sebut Amir.

Berkah dari Drum

Drom Kramat, Kisah Lain Konflik di Aceh

Kisah seputar keberadaan lempengan drum itu semakin meluas. Sekitar 2006-2007, cerita “drom kramat”, demikian orang mengenalnya, menyebar hingga ke luar Aceh Barat.

Banyaknya yang datang bernazar di tempat itu, membuat Amiruddin, bersama tokoh masyarakat setempat sepakat untuk membangun gubuk seluas 3×2 meter.

Gubuk tersebut, selain digunakan sebagai tempat ibadah, juga sebagai tempat dititipkannya barang-barang yang ditaruh para pengunjung.

Pemberian pengunjung yang datang untuk melepas nazar itu, berupa barang, kambing, hingga makanan, dapat diambil oleh siapa pun yang memerlukannya.

Di depan gubuk tersebutlah ditaruh lempengan drum yang dianggap memiliki karamah atau tuah itu.

Selain diberi tembok pembatas berupa beton berbentuk segi tujuh di sisinya, di atas lempengan drum itu ditaruh dua buah celengan yang saling bertindihan.

Di samping gubuk berkontruksi kayu itu terdapat keran air dilengkapi bak berukuran 1×1,5 meter. Para pengunjung sering berwudu, membasuh muka, atau memandikan bayi saat melakukan tradisi “turun mandi anak”.

“Kalau saya melepas nazar anak, dan sembahyang beberapa rakaat di sini,” kata Halimah (26), yang sedang membasuh wajah anaknya, Rabu, 26 September 2018, sore.

Ada juga warga yang mengaku datang jauh-jauh dari Kabupaten Aceh Jaya, untuk salat di dalam gubuk tersebut.

Pembangunan Masjid

Drom Kramat, Kisah Lain Konflik di Aceh

Menurut Amir, uang yang ditaruh oleh orang-orang yang datang melepas nazar atau di Aceh dikenal peuleuh ka’oi di celengan di atas lempengan drum itu, mencapai jutaan rupiah per bulannya.

“Sebulan terkumpul hingga Rp 4 juta. Uangnya kita buat untuk bangun meunasah (surau), untuk anak yatim dan fakir miskin,” dia menambahkan.

Surau yang dimaksud Amir terletak di seberang jalan di depan gubuk, atau sekitar 50 meter jaraknya dari gubuk. Saat ini, surau tersebut sedang dipugar.

Bersamaan dengan itu, juga sedang didirikan bangunan lain untuk menunjang keberadaan lempengan drum tersebut.

Pemerintah desa setempat mengalokasikan dana Rp 30 juta rupiah untuk bangunan baru yang permanen, berukuran 4×3 meter, terletak hanya seperlemparan batu dari gubuk lama di mana lempengan drum itu berada.

Jika saat ini berkunjung ke gubuk tempat lempengan drum tersebut berada, di dalam gubuk itu akan terlihat spanduk berukuran 1,5×0,5 meter yang sudah usang.

“Sumbangan/Hajat Nazar yang Saudara Berikan di Tempat Tengku Dalam Drom Ini Kami Sumbangkan untuk Pembangunan Meunasah Nurul Ikhsan dan Sumbangan Lainnya yang Menyangkut dengan Syariat Islam di Gampong Peuribu,” demikian tertulis di spanduk tersebut.

Sumber:Liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *