Beginilah Bentuk dan Fungsi Bendera Aceh Tempo Dulu

Kerajaan Aceh yang gemilang dalam lintas sejarah Melayu Nusantara sejak abad ke-16 hingga bergulir ke pertengahan abad ke-20 masehi, dan meninggalkan banyak tanda tanya, salah satunya bendera Aceh.

Saban hari, isu bendera menjadi polemik dan bergelinding semakin membesar.

Tidak hanya membesar karena digelinding dalam ranah politik Aceh sekarang, tetapi juga dalam prioritas kepentingan “kesejahteraan” pasca damai Aceh, dan tentu juga dalam lingkaran sejarah Aceh.

Hasan Tiro mengakui beberapa tambahan dalam bendera versinya, tujuannya bendera yang dibuatnya untuk “Aceh Merdeka”.

Itu artinya ia salah seorang yang tahu sejarah tentang bentuk bendera Aceh pada awal Kesultanan dan era kolonial Belanda.

Bendera secara filolofis merupakan hal penting yang tidak terlepas dari simbol kedaulatan, geografis dan patriotisme.

Namun, tentu bendera tidak serta mensejahterakan masyarakatnya, bahkan untuk sebuah negara yang merdeka sekalipun atau negara yang kaya bukan tergantung pada bendera.

Namun, bendera juga dapat membuat makhluk yang diberi pikiran tidak mampu berpikir, dan juga tidak sedikit yang terharu dan menangis saat kain selembar itu berkibar.

Dalam riwayat sejarah Kesultanan Aceh memiliki bendera tersendiri, beberapa riwayat bendera sesuai dengan situasi dan kondisi negara (kesultanan) ketika itu.

Bahkan beberapa kerajaan kecil di bawah otoritas Aceh memiliki bendera sendiri, seperti Kerajaan Samalanga, Kerajaan Tapak Tuan dan Kerajaan Trumon.

Bahkan terdapat juga bendera perdagangan (handel) Nalaboe. Kata Nalaboe merupakan nama awal yang kini berubah menjadi Na Laboeh, dan Meulaboh.

Bendera-bendera Aceh tersebut memiliki fungsi masing-masing dan digunakan pada saat-saat tertentu.

Hal ini dapat dipahami bahwa komunikasi dan informasi tanda-tanda tersebut harus digunakan semaksimal mungkin dan sejelas-jelasnya untuk tidak terjadi salah paham.

Maka bendera menjadi salah satu “simbol” untuk memudahkan dalam komunikasi dalam jangka jarak jauh.

Maka, jika melihat bendera-bendera tersebut, dapat dipahami setidaknya ada tiga situasi yang dialami Aceh saat itu.

Bendera Aceh pada situasi aman, bendera Aceh pada kondisi genting atau perang, dan bendera perdagangan (Handel) Aceh yang digunakan di kapal-kapal Aceh.

Berikut 3 Bendera Aceh tempo dulu dan fungsinya:

  1. Bendera Kesultanan Aceh

Menurut dokumen, bendera ini digunakan secara kontinyu oleh Kerajaaan Aceh sebelum Belanda merebut keraton Aceh.

Bendera Aceh mirip (duplikat) dari bendera Kerajaan Turki (Ottoman), selain warnanya merah juga memakai simbol bulan bintang.

Bintang lima yang digunakan Turki tidak begitu kental dengan gambar disini.

Tentu ini merupakan “sketsa” dari penggambar dari Belanda, atau sebaliknya bentuk bintang enam sebagaimana demikian untuk sedikit membedakan dari bendera Turki.

2. Bendera Perang

Bendera di atas itu merupakan bendera Aceh yang dikibarkan saat perang (Atjeh Oorlog) oleh kerajaan Aceh.

Bendera ini digunakan di kapal-kapal perang Aceh atau diperbukitan yang menghadap langsung ke laut yang dapat dilihat dari jarak jauh.

3. Bendera Perdagangan

Bendera di atas digunakan Aceh (kerajaan Aceh) untuk kapal-kapal perdagangan (Handel), atau dikibarkan di pelabuhan-pelabuhan persinggahan yang digunakan kapal-kapal luar berlabuh di Aceh.

Bendera itu menjadi simbol kapal perdagangan, bukan kapal perang.

Bendera tersebut juga menunjukkan pelabuhan-pelabuhan yang dapat disinggahi untuk perdagangan secara resmi, tentu dengan “pajak” yang telah ditentukan setiap kapal.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *