Pengungsi Rohingya Di Bireuen Berterimakasih Kepada Relawan: Kalian Adalah Muslim yang Sangat Baik, Kami Akan Selalu Ingat Wajah Kalian

hammad Shobir, salah satu dari 79 warga Rohingya yang terdampar di Kuala Raja pada 20 april 2015 lalu mengungkapkan rasa sangat berterimakasih kepada para relawan yang telah mengurus mereka dengan sangat baik.

Pria asal Rakhine itu juga menyebutkan bahwa kebaikan “orang Aceh” menerima dirinya dan seluruh penumpang boat merupakan bukti bahwa orang Aceh adalah muslim yang sangat baik.

“kalian adalah muslim semuslim muslimnya muslim, kalian begitu peduli pada kami.” sebut pria yang ternyata memiliki 4 anak tersebut.

Shobir yang berusia 30 tahun itu ikut menceritakan awal mulanya ia berangkat dari kampung halaman hingga terdampar di Bireuen.

Shobir terpaksa pergi meninggalkan istri dan 4 anaknya bersama keluarga di desa, karena ia tidak tau harus bagaimana bisa mencukupi kebutuhan mereka.

Apa yang di usahakan nya dengan bertani tidak bisa sepenuhnya memenuhi keperluan keluarga.

Mereka juga tidak memiliki akses untuk menjual hasil pertanian karena desa mereka dijaga ketat oleh tentara Myanmar.

Satu-satunya jalan yang terlintas di pikirannya adalah bagaimana ia harus keluar dari “bawah tempurung” demi keluarga dan berniat bekerja ke Malaysia.

Dia berpikir bila nantinya bisa mendapatkan pekerjaan di Malaysia, uangnya akan dikirim ke kampung halaman untuk keluarga.

Tetapi, ternyata kenyataan tak semulus harapan, takdir justru berkata lain.

Setelah 8 hari terombang ambing di laut, mereka malah terdampar ke bibir pantai Kuala Raja, Bireuen.

Wargapun menurunkan mereka dan memberikan makanan.

Beberapa pengnungsi Rohingya yang sakit juga langsung ditangani oleh medis.

Akhirnya mereka dievakuasi ke Posko penampungan sementara si gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Bireuen.

Meskipun begitu, Shobir, kepada Bihaba.net, Senin (28/05/18) mengaku pasrah dengan keadaan yang ia terima saat ini.

Tertahan di penampungan sementara, dan belum bisa melanjutkan perjalanan untuk bisa mendapatkan pekerjaan.

Di dalam hati, Shobir sebenarnya sangat merindukan anak-anak dan istrinya. Namun apa boleh buat, bahkan hingga saat ini, ia belum bisa menghubungi keluarganya.

Saat para pengungsi lainnya difasilitasi untuk menelpon keluarga mereka, ternyata telepon keluarga Shobir di Rakhine tidak aktif saat dihubungi.

“kemarin saat telepon keluarga, saya tidak sempat berbicara dengan keluarga saya, telepon mereka tidak aktif. ” kata Shobir

Bagaimanapun keadaannya, Shobir mengaku tenang bisa berada di Bireuen.

Para Relawan memperlakukan mereka dengan sangat baik,menjaga dia dan pengungsi lainnya sepanjang siang dan malam.

Kondisi yang ia dapatkan di negara mereka sendiri sangat jauh berbeda dengan yang ia temukan disini, di Aceh.

“para relawan mengurus kami siang dan malam, kami merasa dihargai dan benar-benar merasa jadi manusia.

Perbedaanya sangat jauh dari apa yang kami dapatkan di negara kami” ungkap Shobir

Di Posko, mereka bisa beribadah dengan tenang. Bahkan saat makanpun, para relawan mempersilakan mereka makan lebih dulu.

Setelah memastikan semua pengungsi Rohingya mendapatkan makanan, baru kemudian para relawan mengambil piring mereka dan makan.

Shobir juga mengatakan, jika memang nantinya mereka akan dipindahkan, mereka akan selalu mengingat wajah para relawan yang sudah memperlakukan mereka seperti saudara sendiri.

“kami akan ingat wajah kalian, kami akan melupakan kalian dalam waktu yang sangat lama.” ungkap Shobir dengan mata berkaca-kaca.

Sumber : Bihaba.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *