Benarkah Bireun Pernah Menjadi Ibu Kota Indonesia ?

Bireuen, kota yang dijuluki sebagai kota juang ini, terletak di pesisir Utara Provinsi Aceh. Bireuen dikenal semasa agresi Belanda pertama dan kedua (1947-1948) dalam upaya mempertahankan Republik Indonesia (RI) dari penjajah.

Agus Irwanto, pemerhati budaya dan dosen di STIE Kebangsaan Bireuen, mengungkapkan bahwa Kota Bireuen dikenal sebagai pusat kemiliteran Aceh.

Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo di bawah pimpinan Kolonel Hussein Joesoef berkedudukan di Bireuen (Pendapa Bupati) sekarang.

“Bahkan Bireuen pernah menjadi ibu kota RI ketiga ketika jatuhnya Yogyakarta pada 1948. Sebagai referensi saya temukan, Presiden Soekarno hijrah dari ibu kota RI kedua, yakni Yogyakarta ke Bireuen pada 18 Juni 1948.

Selama seminggu Bireuen menjadi wilayahnya (Soekarno) mengendalikan Republik Indonesia dalam keadaan darurat,” jelas Agus (Kompas, 2013).

Julukan Kota Juang Bireuen dikukuhkan kembali oleh Letjen Purn Bustanil Arifin pada 1987. Acara itu dihadiri sejumlah tokoh, termasuk gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan.

Beberapa tokoh pejuang dan alim ulama pun menjadi saksi pengukuhan kembali tersebut.

KEDATANGAN SOEKARNO

Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendapa Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa sangka, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah, di sana pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno.

Kedatangan presiden pertama Republik Indonesia (RI) itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda.

Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen, yang relatif aman.

Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota hingga mendarat di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.

Kedatangan rombongan presiden di sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.

Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak, tepatnya di lapangan terbang Cot Gapu.

Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu muka dan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasai kembali Sumatera Timur (Sumatera Utara) sekarang.

Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen. Dia menginap dan mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X (Pendopo Bupati Bireuen sekarang).

Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda. Sayangnya, catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah kemerdekaan RI.

Memang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen pada khususnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Perjalanan sejarah membuktikannya. (acehpedia.org)

JANGAN LUPAKAN SEJARAH

“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah ,” Soekarno (17 Agustus 1966).

Kalimat yang disampaikan oleh Presiden Soekarno di atas memiliki makna yang sangat “dalam”. Pesan itu menunjukkan bahwa sejarah adalah bagian penting dari Republik ini yang senantiasa harus diingat dan dikenang selalu oleh setiap generasi Indonesia.

Setiap Generasi muda bangsa Indonesia mesti mengetahui bagaimana kemerdekaan bangsa Indonesia diraih. Banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh pejuang kemerdekaan dahulu. Baik itu pengorbanan harta hingga nyawa yang harus ditebus untuk menggapai cita-cita kemerdekaan.

Kita bangsa Indonesia tidak seperti Negara-negara tetangga, sebagaimana Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, yang merdeka dengan “belas kasih” atau “hadiah” dari pihak asing, tanpa perjuangan yang berarti, seperti yang telah bangsa Indonesia alami selama diduduki oleh penjajah.

Sastrawan sekaligus jurnalis terkemuka Inggris, George Orwell, menyebutkan bahwa sejarah sangat penting bagi suatu bangsa. Sebab menurut-nya, untuk menghancurkan suatu generasi, cukup dengan mengingkari serta menghapuskan pemahaman mereka atas sejarah-nya sendiri.

Inilah bunyi kalimat yang disampaikan oleh George Orwell: “Cara paling efektif untuk menghancurkan orang banyak adalah dengan mengingkari serta menghapuskan pemahaman mereka atas sejarahnya sendiri.”

Sumber

Satu tanggapan untuk “Benarkah Bireun Pernah Menjadi Ibu Kota Indonesia ?

  • November 13, 2018 pada 1:29 am
    Permalink

    Selayaknya Aceh mnjdi Daerah Istimewa…Semestinya derajat dan peran keistilmewaanya dalam negara Kkeatuan Rep Indonesia semakin diperkuat…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *