Sepenggal kisah Asal Usul Alue Sungai Pinang, Aceh Barat Daya (Abdya)

Inilah kisah dari Aceh bagian Barat Daya, tepatnya di Alue Sungai Pinang. Disini penulis ingin menceritakan sedikit dari kisah asal-muasal nama kampung alue sungai pinang tersebut. Kisah ini saya dapatkan dari hasil wawancara dengan warga kampung Alue Sungai Pinang, Abdya. Beliau adalah pewaris sejarah legenda asal-usul kampungnya sendiri. Beginilah kisahnya…

Jauh menyelam waktu ke belakang, hiduplah seorang pria alim yang bernama teungku Malem Diwa. Beliau hidup di sebuah desa yang indah dan permai di kaki pegunungan Barat Daya. Beliau terkenal dengan kealimannya. Sudah menjadi kelaziman di daerah barat-selatan kebanyakan binatang tunduk dan patuh pada orang-orang alim. Begitu juga dengan Malem Diwa. Beliau memiliki kupu-kupu, rayap, elang, dan tupai berbulu kuning.

Malem Diwa mempunyai seorang istri. Istrinya adalah salah satu dari 7 putri kayangan, Putroe Bungsu namanya. Putroe Bungsu hidup di kayangan sedangkan Malem Diwa tetap di bumi.

Pada suatu waktu, Malem Diwa merasakan kerinduan yang sangat mendalam akan istrinya. Akan tetapi Malem Diwa tidak mempunyai kendaraan menuju kayangan. Malem Diwa terus memikirkan cara untuk menuju kayangan.

Di kampung yang sama hidup pula seorang putri yang bernama Putroe Aloeh. Pada masa itu hanya Putroe Aloeh saja yang memeliki kuda terbang. Putroe Aloeh hidup sendiri di sebuah rumah daerah pucoek krueng (hulu sungai) kampung tersebut. Rumahnya berdekatan dengan sebuah alue (alur sebuah sungai kecil diantara pegunungan) yang di sampingnya tumbuh sebatang pohon pinang yang sangat tinggi. Batang pinang tersebut adalah miliknya Putroe Aloeh. Suatu keanehan yang terjadi pada pohon pinang tersebut. Batang pinang itu memiliki satu tangkai yang hanya berjuntai tiga buah pinang saja. Tiga pinang tersebut terdiri atas emas, perak, dan intan. Kisahnya, pohon pinang itu tak seorangpun yang dapat mengambil buahnya. karena Pohon pinang tersebut di jaga oleh ular, kala, dan binatang berbisa lainnya.

Malem Diwa mendengar bahwa Putroe Aloeh mempunyai kuda terbang. Berjalanlah Malem Diwa menuju rumah Putroe Aloeh berniat untuk meminta kuda terbang tersebut. Setalah Malem Diwa mengutarakan maksudnya, Putroe Aloeh berkata, “ Jika kamu sanggup mengambilkan aku 3 buah pinang itu, maka kamu boleh menikahiku dan mengambil kuda terbangku,”katanya. Pada saat itu pulalah Malem Diwa menyanggupi persyaratan Putroe Aloeh. “ Baiklah, tapi selama saya mengerjakan tugas itu, kamu tidak boleh melihatku,” jawab Malem Diwa menyanggupinya.

Di saat Malem Diwa melaksanakan persyaratan itu, dia menyuruh kupu-kupu untuk mengalihkan perhatian Putroe Aloeh supaya tidak melihatnya ketika bekerja. Malem Diwa meminta rayap membuatkannya sebuah kursi untuk tempat duduknya. Kemudian ia menyuruh elang untuk mengangkat kursi yang ia duduki itu setinggi pertengahan batang pinang saja. Ia menyuruh tupainya untuk mengambilkan 3 buah pinang itu. sesampai di atas, tupai tersebut berkelahi dengan binatang penjaga pohon pinang itu. Tupai Malem Diwa terluka parah dan jatuh ke pangkuan tuannya. Malem Diwa kemudian mengobati tupainya dengan air kapur sirih sehingga bulu lehernya berubah menjadi warna merah. “ Katakan pada mereka bahwa engkau adalah utusan ku,” perintah Malem Diwa. “ Dan aku melakukan ini atas suruhan Putroe Aloeh,” tambahnya. Tupai Malem Diwa terus melompat mendekati pucuk pinang dan mengatakan amanah Malem Diwa kepada binatang-binatang penjaga pohon pinang itu. Akhirnya tupai Malem Diwa berhasil mendapatkan 3 buah pinang itu dan menyerahkan kepada tuannya.

Melihat Malem Diwa berhasil melaksanakan tugasnya, Putroe Aloeh dengan ikhlas menikah dan memberi kuda tebangnya kepada Malem Diwa. Setelah Malem Diwa menikahi Putroe Aloeh dan memperoleh kuda terbang, beliaupun terbang menuju kayangan untuk bertemu dengan istri pertamanya Putroe Bungsu. Malem Diwa tinggal bersama Putroe Bungsu di kayangan, sedangkan Putroe Aloeh tetap tinggal di bumi.

Setelah pohon pinang Putroe Aloeh kehilangan buahnya, tak lama kemudian pohon pinang yang sangat tinggi itu akhirnya tumbang. Batangnya membujur mengikuti aliran sungai Alue yang berujung di sebuah kuala Puloe Kayee. Inilah akhir dari kisah asal-usul Alue Sungai Pinang yang saya dapati.

Juga di kisahkan pada tahun 1980-an, di kuala Puloe Kayee terjadi suatu keanehan. Tiap ketika cuaca hujan panas, selalu terlihat bayang-bayang daun pinang berwarna kuning disekitaran kuala tersebut. Hal ini merupakan bukti dari sejarah Alue Sungai Pinang, Aceh Barat Daya.

Sumber:
• Masri (warga kampung Alue Sungai Pinang)
• Muslima (pewaris kisah kampung Alue Sungai Pinang dari neneknya, Almh. Safiyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *