Kisah Abuya Muda Waly dan Si Pembawa Kambing

Abuya adalah seorang yang kasyaf. Kasyaf adalah tersingkapnya hakikat-hakikat atau rahasia-rahasia ketuhanan, setelah menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepadanya.[1]

Pada suatu ketika Abuya sedang mengajar di Raudhah Riyahin, tiba-tiba Abuya tersenyum (hampir seperti ketawa). Raudhah Riahin adalah sebuah kebun bunga yang terletak tidak jauh dari Baitut Ta’lif, sebelah selatan dari menara dan menara ini berdiri sebelah selatan makam Abu Syik Haji Muhammad Salim, Salim orang tua Abuya sendiri. Raudhah ini berukuran 3×4 meter persegi yang ditanami sekililingnya bunga-bunga lamping. Disinilah para tamu yang ingin bertemu dengan Abuya dapat langsung menemui beliau di siang hari menjelang waktu shalat ashar.[2]

Murid beliau yang melihat keadaan demikian, bertanya kenapa beliau tersenyum padahal tidak ada sesuatu yang lucu yang membuat hadirin merasa dikocok isi perutnya. Abuya berkata :

“Ada seorang laki-laki dari meukek sedang menuju ke Darussalam untuk mengaqiqahkan dua ekor kambing dan daun sirih yang di isi dalam raga untuk diberikan kepada Abuya. Ditengah jalan orang ini merasa hendak buang air kecil, iapun melangkah kesemak-semak untuk qadha hajatnya. Sedangkan kambing tadi di ikatlah pada sepedanya. Saat ia melaksanakan qadha hajatnya tiba-tiba kambing itu memakan sirih yang ia bawa sehingga ia menjadi bingung mau pilih mana menghalau kambing atau melanjutkan buang air, akhirnya orang itu melakukan kedua-duanya (sambil buang air ia mengejar dan menghalau kambingnya).

Ternyata itulah yang membuat Abuya tersenyum. Setelah sampai ke Darussalam orang itu ditanyai dari mana asalnya dan apa yang terjadi di perjalanan. Orang itu pun bercerita persis apa yang diceritakan Abuya sebelumnya.[3]

[1] Kamus Al-Munjid, Hal. 687

[2] Abu Keumala, Wadzifah Ibadah dan Pengembangan Ilmu Keagamaan hari-harian Abuya Syeikul Islam Aceh Maulana Syeikh Haji Muda Waly AL-Khalidy, (Media Dakwah Santri Dayah, 2010). Hal 5

[3] Sumber : Abuya Teungku Haji Ruslan Waly dan Wawancara dengan Teungku Khalifah Bilalian Blang Poroh 12 Desember 2012.

Sumber :
Buku Ayah Kami (Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *