Riwayat Teungku di Pucok Krueng, Teungku Yang Hilang

Kisah ini di tulis oleh teuku Muttaqin Mansur, Penulis adalah warga gampong Mulieng, kemukiman Beuracan, kecamatan Meureudu, kabupaten Pidie Jaya, Acheh. di teukuampon.blogspot.co.id.

Sering kita mendengar bahwa orang alim atau ulama dapat menghilang secara tiba-tiba. Dan selanjutnya tidak diketahui ke mana mereka menghilang. Salah satu ulama itu ialah Teungku di Pucok Krueng. Masyarakat yang pernah bertemu dengan aulia Allah tersebut meneruskan cerita hilangnya sang-Ulama kepada anak cucu mereka agar dapat di ambil sebagai ‘iktibar.

Meski sosok Teungku di Pucok Krueng tidak di kenal secara luas, seperti Syech Abdurrauf As-Singkili (Teungku Syiah Kuala) dan Syech Shamsuddin al-Sumatrani, namun bagi masyarakat Meuredu, Pidie Jaya, keberadaan beliau telah menjadi cerita turun temurun.

Beliau dianggap sebagai seorang ulama keuramat (keramat/karamah), bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau dapat berjalan di atas air. Namun sayang, diakhir hayatnya, tidak ada seorang yang mengetahui secara pasti di mana makamnya (Aceh: kubu). Beliau menghilang begitu saja setelah membawa seorang anak kecil bersamanya.

Nama Teungku

Kegaiban yang menyelimuti ulama besar ini berlanjut, sampai-sampai nama asli beliau juga tidak diketahui secara pasti. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Abdus Samad, tetapi ada pula yang mengatakan nama asli beliau adalah Muslim. Bahkan, ajaran Islam yang bagaimana yang beliau ajarkan, siapa saja murid-muridnya dan apa saja kitab-kitab yang pernah beliau ajar/tuliskan tidak diketahui secara jelas oleh masyarakat sekitar.

Mendirikan Dua Masjid

Menurut cerita masyarakat di Meureudu, ada dua masjid yang berhasil beliau dirikan semasa hidupnya. Salah satu masjid, yakni Masjid Kuta Batee, di Gampong Manyang, ada yang mengatakan masih dalam tahap pembangunan ketika sultan Iskandar Muda dengan putroe meurah (sebutan kemulian orang Aceh kepada gajah) singgah di Meureudu.

Putroe meurah ketika itu tanpa perintah sultan, tiba-tiba du (duduk) beristirahat di sana. Malah nama kecamatan Mereudu sendiri di yakini terinspirasi karena gajah sultan duduk di sana (Meurah Du). Sedangkan masjid satu lagi yaitu Tgk Di Pucok Krueng di Gampong Mesjid, Simpang Beuracan, tidak lagi diketahui kapan persisnya dibangun oleh Teungku.

Namun ada versi lain yang mengatakan bahwa beliau mendirikan 4 buah masjid selain dua yang tersebut di atas, yakni masjid Madinah di desa Dayah Krueng, Meuredu dan satu lagi di Lampoh Saka, Kecamatan Pekan Baro, Kabupaten Pidie.

Keunikan pada Masjid

Pertama, Masjid Kuta Batee. Masjid ini kira-kira berjarak 300 meter dari jalan Banda Aceh -Medan, jalan menuju Blang Awe, atau jalan masuk sebelum jembatan simpang empat ke arah kanan apabila posisi kita dari Banda Aceh.

Pada Masjid ini terdapat satu bambu penyangga yang berada pas di tengah-tengah Masjid. Dan di yakini bambu tersebut dipancangkan pertama sekali oleh Sang Teungku. Uniknya, bambu itu sampai sekarang masih dalam keadaan utuh meskipun telah berusia ratusan tahun.

Kedua, Masjid Tgk Di Pucok Krueng. Masjid yang terletak di KM 156 sisi sebelah kiri jalan Banda Aceh – Medan tersebut berarsitek kuno dan lebih dari 80 % bahannya bersumber dari bahan kayu. Masjid tersebut sudah jarang digunakan untuk menunaikan shalat berjamaah, karena di sebelahnya sekarang telah berdiri masjid baru tetapi masih mempunyai koneksi langsung dari arah dalam masjid. Paling-paling kalau masjid baru tidak muat atau ada orang tertentu yang punya niat khusus, maka masjid Teungku sering digunakan.

Selain ber-arsitektur klasik, yang unik lainnya pada masjid ini adalah keberadaan sebuah Guci besar di sebelah kanan pintu masuk masjid. Guci itu dipercayai sebagai guci bertuah. Biasanya pada setiap hari kamis, ada masyarakat yang melalukan khanduri peuelueh hajat (keduri hajatan). Di antara mereka ada yang memotong kambing atau ada juga yang hanya cukup dengan menu bulukat tumpou dan bulukat u kuneng (nasi ketan khas Aceh). Ritual khanduri umumnya ditujukan untuk keselamatan anak-anak dan memberi keberkahan.

Di Akhir ritual, anak-anak tersebut biasanya dimandikan dengan air yang di ambil dalam guci itu. Dan bagi yang ingin keberkahan maka disarankan untuk meminumnya saja. Namun khusus bagi perempuan tidak boleh sembarangan mengambil langsung air tersebut karena ada pantangan bagi mereka.

Selain tidak dibenarkan untuk mengambil air sendiri, perempuan juga di larang untuk menjenguk ke dalam tempat dudukan guci. Pantangan itu ditulis dan digantung pada dinding kain putih yang sengaja di buat melingkar untuk menutupi guci dari penglihatan umum. Agar mereka dapat meminumnya, maka jasa lelaki atau bilal/imam masjid yang senantiasa ikut dalam ritual hajatan sangat diperlukan.

Apabila pantangan di langgar, maka diyakini akan terjadi sesuatu pada mereka baik langsung maupun tidak langsung. Perempuan itu misalnya akan melihat ular, bukan lagi guci. Atau pada malam hari akan bermimpi buruk atau hal-hal yang aneh lain akan terjadi padanya.

Kubu Teungku

Banyak masyarakat dalam kawasan Meureudu terutama di kemukiman Beuracan percaya bahwa Teungku Di Pucok Krueng dimakamkan di puncak gunung Beuracan, sehari perjalanan dari gampong Mulieng, gampong terakhir yang terletak bersisian dengan lereng gunung bukit barisan. Meski demikian, banyak juga yang menyangsikan bahwa kubu (makam) di puncak gunung itu sebagai kubu Teungku. Mereka bahkan meyakini kubu tersebut sebagai kubu anuek miet (anak kecil) yang pernah di bawa Teungku ketika beliau pulang dari shalat jum’at di Masjid Teungku Di Pucok Krueng.

Kegaiban ini hingga sekarang masih belum terungkap. Tetapi masyarakat di sana tetap beranggapan bahwa kubu di puncak gunung Beuracan itu sebagai kubu Teungku. Bahkan kini setiap empat tahun sekali terutama masyarakat dalam kemukiman Beuracan selalu mengadakan ritual khanduri potong kerbau di dekat kubu tersebut. Tujuannya adalah di samping sebagai rasa syukur atas ajaran Islam yang dibawakan beliau, mereka juga berharap akan selalu tercurahkan rahmat dan limpahan rezeki dari Allah Swt khususnya hasil sawah-ladang makin berkah.

Teungku Di Pucok Krueng, walaupun nama sebenarnya tidak dikenal tetapi pikirannya masih dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Nama Teungku Di Pucok Krueng pun berhasil melekat di dalam hati sanubari umat. Malah sekarang nama itu terukir di gerbang masjid yang beliau dirikan sendiri di simpang Beuracan, kecamatan Meuredu, kabupaten Pidie Jaya ini.

Inilah mungkin keikhlasan seorang aulia Allah yang telah menghilang tersebut. Baginya tidak penting diketahui siapa Ianya, tetapi ajaran Islam yang beliau tanamkan menjadi sangat berharga bagi umat Islam dan penerusnya di masa-masa yang akan datang.

Karenanya meskipun orang tidak bertemu langsung dengannya, tidak mengetahui pasti di mana kubunya, tetapi hati dan doa umat selalu bersamanya.. Allahumma firlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Wallahu ‘alam. (dari berbagai sumber).

Baca sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *