Hikayat Prang Sabi Dan Pengarangnya Yang Terlupakan

Aceh merupakan salah satu daerah yang mempunyai ragam kebudayaan, adat istiadat, dan syariat Islam. Berbicara tentang Aceh, banyak hal yang harus kita tahu, karena Aceh ini menyimpan begitu banyak sejarah dan kejadian yang begitu besar dari dulu hingga sekarang.

Aceh ini dikenal juga dengan negeri seribu satu hikayat. Begitulah slogan yang melekat pada Provinsi Aceh. Karena memang Aceh banyak menyimpan kisah lama, kisah tragis akan perjuangan dalam mempertahankan tanah endatu kisah penuh nestapa, suka, duka hingga kisah kegemilangan akan pencapaian kerajaan-kerajaan yang memerintah Aceh dahulu sehingga banyak ulama besar di Aceh melahirkan hikayat-hikayat, di antaranya hikayat Prang Sabi.

Hikayat Prang Sabi dikarang oleh seorang ulama besar yaitu Tgk Chik Pante Kulu. Ini merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada yang sangat heroik yang bisa membangkitkan semangat para pejuang Aceh melawan penjajahan Belanda.

Hikayat ini dulu sering diperdengarkan kepada telinga anak-anak Aceh, baik itu laki-laki maupun perempuan. Apa itu tua muda atau bahkan besar atau kecil.

Namun kini kenyataannya lain di generasi muda sekarang. Generasi muda sekarang tidak banyak yang tahu tentang sejarah Aceh apalagi tentang hikayat Prang Sabi tersebut, bahkan jarang didengar oleh generasi sekarang. Padahal generasi sekarang adalah tombak yang harus menjadi penerus para syuhada bukannya hanya berangan dalam mimpi saja.

Padahal sejarah telah membuktikan bahwa hikayat tersebut merupakan hikayat yang sangat ditakuti oleh bangsa penjajah saat itu dan merupakan momok yang menakutkan bagi kafir penjajah.

Sebaliknya, ketika hikayat Prang Sabi itu bergema di telinga rakyat Aceh, bahkan itu menjadi motivasi dan semangat juang bagi rakyat Aceh dalam melawan musuh, kezaliman dan juga ketika mendengar hikayat tersebut seolah-olah tidak takut lagi untuk mati. Karena pengaruh hikayat ini mampu membangkitkan semangat jihad siapa saja yang membaca ataupun mendengarnya untuk terjun ke medan perang.

Melawan tidak selalu berarti harus mengangkat senjata, setidaknya itu yang dilakukan oleh Teungku Chik Pante Kulu, di Palembang ada Sultan Mahmud Badruddin. beliau dikenal banyak memimpin pertempuran melawan penjajah. Dan ini bukan soal bagaimana cara mereka berjuang akan tetapi bagaimana kita bisa mengenang mereka, karena pada hakikatnya seseorang itu akan mati ketika mereka dilupakan.

Ini adalah hikayat yang hebat yang telah dilupakan dan tidak ada yang melestarikan :

Subhanallah wahdahu wabi hamdihi

Khalikul badri wa laili adza wa jalla

Ulon peujoe Poe sidroe Poe syukoer keu rabbi ya aini

Keu kamoe neubri beu suci Aceh mulia…

Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi

Soe Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa

Lindoeng gata seugala nyang mujahidin mursalin

jeut-jeut mukim ikeulim aceh mulia…

Nyang meubahgia seujahtera syahid dalam prang

Allah bri pulang dendayang budiadari

Meusoe hantem prang ciet malang

ceulaka tuboeh rugoe roh

Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka…

Meu soe nyang tem prang cit meunang meutuwah teuboh

Syuruga pieht roeh nyang leusoeh neubri keugata

Hoe kasiwa-sirawa syahid dalam prang dan seunang

Dji peurap rijang peutamo´ng syuruga tinggi..

Budiyadari meuriti di dong dji pandang

Dipreh cut abang jak meucang dalam prang sabi

Hoe ka judo teungku ee syahid dalam prang dan seunang

Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi…

Ini merupakan hikayat yang pernah menjadi sejuta rencong bagi rakyat Aceh saat itu, pada saat melawan penjajahan Belanda, namun kini beliau terkubur bersama mahakarya nya hikayat Prang Sabi.

Sederhana, tidak ada tanda-tanda keistimewaan di tempat beliau disemayamkan, sepi tiada yang peduli, mungkin seperti hikayatnya yang usang di makan waktu. Siapa yang harus disalahkan? Dan siapa yang harus bertanggung jawab? Tentu kita semua yang bertanggung jawab. (R05/P2)

Sumber: Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *