Ingin Menikahi Gadis Aceh? Baca Dulu Syarat Syaratnya Agar Kalian Tidak…

Mengucapkan kata will you marry me memang mudah, namun hal itu tak segampang membalikkan telapak tangan jika di Aceh. Semua orang mau menikah, tidak terkecuali Anda. Jika usia telah matang dan fisik sudah siap, materi maupun mental juga sudah ok, pernikahan adalah hal wajar dan dianjurkan dalam Islam.

Namun, menikah dengan gadis Aceh tidak segampang orang ngomong di warung kopi. Aturan main yang lebih dikenal dengan sebutan budaya sangat erat kaitannya untuk laki-laki maupun perempuan yang ingin menikah.

Budaya ini pula yang membuat laki-laki Aceh lebih galau dan pusing tujuh kepayang daripada perempuan. Hanya di Aceh saja urusan menikah mesti mengeluarkan biaya yang cukup lumayan besar.

Aceh memang sebuah daerah yang unik, syariat Islam telah diterapkan di sana. Kendatipun demikian, urusan pinangan seorang laki-laki kepada anak gadis tidak berlaku “aturan main” di Tanah Rencong

Sebelum menjadi dara baro dan linto baro atau ratu dan raja satu hari, perempuan yang menunggu dilamar memang tidak khawatir jika orang tuanya telah setuju menikahinya. Bagi laki-laki dihadang oleh masalah yang cukup membuat pusing tujuh kali lipat. Adapun masalah tersebut yaitu :

1. Jeulame (Mahar)

Gambar terkait

Mahar menjadi ukuran sebuah pernikahan disetujui oleh kedua pihak keluarga. Mahar seperangkat alat solat tidak cukup untuk mendapatkan gadis Aceh, sekalipun Islam membenarkan hal demikian.

Mahar gadis Aceh adalah emas. ingin meminang gadis Aceh siapkan emas paling kurang 10 mayam. apabila belum ada emasnya, ya mau gimana lagi, kerja dulu sebelum mengetuk pintu rumah perempuan yang dicintai dengan segenap cinta dan berharap bahagia dalam rumah tangga kelak.

Gadis Aceh dipinang dengan mahar emas, kenapa bigitu? bukan karena emas itu mahal.

Hal ini karena sudah menjadi kebiasaan secara turun-temurun, dan menjadi ukuran bahwa emas adalah mahar terbaik. tidak ada emas sama dengan tak ada perkawinan dengan gadis Aceh, setuju?

Ada tata cara sebelum mahar emas itu jatuh pada patokan wajib dipenuhi oleh seorang laki-laki. salah satu penyebabnya adalah mahar ibu kandung, di mana penentuan mahar mengacu pada mahar ibu si gadis yang sedang dilamar, boleh sama tapi tak boleh kurang dari itu. selain mahar ibu kandung juga dilihat dari penentuan mahar kakaknya yang terlebih dahulu dikawinkan.

Status sosial ini penting karena kata-kata lebih tajam dari pada pedang. Mahar yang berlaku di lingkungan sekitar adalah sebuah hal yang wajar.

Jika pun dilihat dari besarnya, tak bisa dikatakan mahal atau tidak.

Contohnya saja, seorang gadis dilamar dengan mahar sebesar mahar ibunya. Jika gadis itu berusia 20 tahun, dan katakanlah anak pertama dengan ibunya langsung hamil setelah menikah, mahar yang ditetapkan kadarnya adalah sama jika berada di 10 mayam emas walaupun harga emas berbeda. Masyarakat Aceh tidak melihat berapa harga emas namun besarnya itulah penentu segalanya.

2. Peunuwoe (barang perlengkapan)

Hasil gambar untuk Peunuwoe

Tak sebatas itu saja, seorang laki-laki yang sudah siap menikahi gadis Aceh bukan saja memiliki kewajiban menuaikan mahar doang. Laki-laki itu wajib membeli atau memenuhi perlengkapan pakaian kepada perempuan yang disebut “peunuwoe”.

Peunuwoe ini biasanya terdiri dari satu set bakal kain (pakaian belum jadi), perlengkapan kosmetik, alat-alat mandi, sepatu dan sandal, perlengkapan dapur (makan) seperti piring, cangkir, ceret, serta kebutuhan lain yang dianggap perlu. Duh… repotnya bukan?

Peunuwoe akan diberikan saat acara intat linto (antar mempelai laki-laki) ke rumah mempelai perempuan setelah melakukan ijab kabul. Estimasi biaya untuk peunuwoe memang tidak ditetapkan oleh pihak mempelai perempuan saat pertemuan dua keluarga.

Dana atau perlengkapan penting ini dibeli sesuai dengan kesanggupan mempelai laki-laki dan keluarganya. Walaupun tidak ditetapkan, peunuwoe ini wajib dan sudah menjadi adat. Tukan… uang lagi.

Selain perlengkapan wajib tadi, juga ikut dibawa perlengkapan hidup seperti hewan ternak (ayam atau kambing), beras, sayuran dan buah-buahan. Serah terima dilakukan di rumah mempelai perempuan yang sedang menggelar pesta preh linto (tunggu mempelai laki-laki).

Ada beberapa daerah Aceh yang memberlakukan peng angoeh (uang hangus). Uang hangus ini wajib diberikan kepada calon mempelai perempuan atau keluarganya sebelum proses ijab kabul (resepsi pernikahan).

Uang hangus biasanya telah ditetapkan saat penentuan mahar atau saat rapat. Besar uang hangus biasanya diestimasikan sebesar isi kamar pengantin di rumah mempelai perempuan, ada pula yang mematok langsung jumlah nominalnya, misalnya 3 juta rupiah.

Jika ada perjanjian uang hangus maka mempelai laki-laki wajib menunaikannya, jika belum dilunasi maka tidak dibenarkan masuk (pulang) ke rumah mempelai perempuan walaupun sudah terjadi ijab kabul. Hm… siapa sih yang tidak ingin pulang! Duriannya itu lho.

3. Acara resepsi ( pesta )

Gambar terkait

Selain 2 poin di atas yang sudah mengeluarkan biaya yang lumayan besar, ada lagi satu masalah yang akan membuat kalian “Gila” jika kalian tidak mempersiapkan dana yang cukup jauh jauh hari, yaitu saat acara resepsi pernikahan. 

Besarnya dana yang di keluarkan saat acara resepsi pernikahan tergantung dari megah tidaknya acara tersebut, kalau kalian menyediakan daging sebagai menu utama, tentu akan membutuhkan biaya yang lumayan besar, namun hanya beberapa daerah saja di Aceh yang mewajibkan daging sebagai menu utama, sedangkan beberapa wilayah lainnya tergantung dari kemampuan si mempelai pria.

Menikahi gadis Aceh terasa berat jika pernikahan itu dilakukan dengan baik-baik, melibatkan dua keluarga, bukan pernikahan karena sebab-akibat (ditangkap basah saat mesum) yang kemudian mendatangkan malu dan resepsi pernikahan menjadi tidak megah. atau sama sekali tidak ada.

Itulah beberapa syarat yang perlu kalian ketahui sebelum kalian serius mempersuunting gadis pujaan hati kalian di Aceh.

Terkadang, hal ini bisa membuat si laki-laki stres banget. Walaupun syaratnya seperti yang telah kita sebutkan, mau bagaimana lagi, hal itu sudah terjadi sejak turun-temurun. Bagi pria Aceh mungkin hal ini tidak lagi menarik untuk diketehui. Menikahi Gadis Aceh sangatlah rumit rumit. Masih adakah yang mau menikahi gadis Aceh?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *