Begini Cara Mencegah Praktik Prostitusi di Aceh Kata Ulama

Banda Aceh – Prostitusi di Aceh kian marak terjadi, tidak hanya di ibu kota provinsi tapi juga menjalar hingga ke daerah-daerah. Pekerjanya pun bukan hanya kalangan perempuan dewasa tapi juga pelajar dan anak-anak di bawah umur.

Baru-baru ini, Polresta Banda Aceh menciduk dua mucikari di hotel Aceh Besar bersama sejumlah perempuan muda yang dijadikan pekerja seks komersial (PSK) untuk melayani pada pria hidung. Para perempuan muda tersebut sebagiannya tercatat sebagai mahasiswi di beberapa universitas di Banda Aceh.

Di daerah, Polres Lhokseumawe dan Aceh Barat juga berhasil membongkar praktik prostitusi yang selama ini diakui cukup meresahkan warga setempat. Mirisnya di Aceh Barat, sebaian PSK-nya adalah anak berusia di bawah umur.

Dari keterangan para PSK, polisi menemukan fakta jika para perempuan muda tergiur untuk jadi pelayan jasa esek-esek untuk memenuhi kemewahan hidup (hedonisme).

Kondisi ini tentu saja sangat disayangkan oleh banyak kalangan. Wakil Ketua Majelis Permusyawatan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisal Ali mengungkapkan jika pihaknya telah lama merekomendasikan ke Pemerintah Aceh cara menekan dan mencegah praktik prostitusi di Aceh.

Diantaranya MPU merekomendasikan pemerintah harus membuat regulasi agar setiap tamu yang ingin menginap di hotel di seluruh Aceh wajib diperiksa identitasnya.

“Karena penggunaan tempat itu (prostitusi) di hotel paling banyak, jadi prosedural penerimaan tamu di hotelh harus diperketat,” ujarnya pria yang akrab disapa Lem Faisal saat dimintai tanggapan oleh aceHTrend, Sabtu (7/4/2018).

Selain prosedur penerimaan tamu di hotel, MPU juga merekomendasikan ke pemerintah agar menghidupkan kembali situasi rasa sosial di gampong-gampong (desa) seperti dulu, sehinga semua orang yang masuk ke gampong tersebut termonitor oleh semua orang gampong termasuk tempat kos-kosan.

“Di tempat kos itu harus ada aturan yang dibebankan kepada pemilik kos. Jadi pemilik kos itu harus diatur jam bertamu, kalau lelaki harus tempat laki-laki kalau perempuan tidak boleh jam sekian keluar malam itu sudah kita rekomnedasikan,” katanya.

Begitu terkait dengan salon-salon di Aceh. MPU diakui Lem Faisal sudah merekomendasikan agar kacanya dibuat transparan dan dapat dilihat dari luar, kecuali salon untuk muslimah. Termasuk tempat-tempat seperti game dan internet harus dibuat transparan dan diatur sedemikian rupa agar tidak digunakan untuk hal-hal yang melanggar syariat,” katanya.

“Itu adalah hal-hal yang kita sampaikan melalui rekomndasi ke pemerintah namun sampai saat ini tidak ditindaklanjuti padahal itu adalah hal-hal yang sangat ringan dalam upaya pencegahan prostitusi di Aceh,” tuturnya.

Pendidikan di Aceh Harus Berkarkater Islami

Selain menata tempat-tempat layanan publik, Tgk Faisal juga mengaku bahwa MPU telah merekomendasikan agar keped pedidikan Aceh harus berkarakter islami.

“Pendidikan di Aceh juga harus berkarakter, kita punya kewenangan untuk itu dan kita punya kebebasan untuk mengatur kurikulum pendidikan tapi sampai saat ini belum dilakukan,” ungkapnya.

Maka dengan maraknya terjadi prostitusi di Aceh, MPU kembali mendesak pemerintah agar melakukan upaya-upaya strategis dan terukur untuk mencegah dan menekan pertumbuhan prostitusi di Aceh.

“Kita harus memulai dari pendidikan mulai dari usia dini, TK, SD hingga SMA. anak-anak itu harus kita bentuk karekternya tidak hanya di Banda Aceh tapi juga harus di seluruh Aceh,” tegasnya.

Menurutnya, untuk menyelamatkan enerasi Aceh pendidikan harus kembali pada khazanah ke-Acehan seperti tempo dulu dan ini adalah tanggungjawab ulama dan pemerintah. Tanggungjawab ulama dalam memberikan pemikiran dan saran sementara pemerintah berperan dalam mengeksekusinya.

“Tugas kita menyampaikan rekomendasi dan pemikiran-pemikiran sementara yang eksekusi itukan pemerintah,” tambahnya.

Dengan pendidikan yang berkarakter Islami, maka hedonisme yang menjadi pemicu para perempuan muda di Aceh untuk menjadi PSK tidak lagi terjadi.

“Dengan pendidikan seperti ini, mereka akan menjadi orang yang berkarakter dan tahu adat Aceh dan tahu pengorbanan orang tuanya. Karena anak-anak yang terjerumus dalam dunia ini adalah mereka yang tidak tahu tentang bagaimana Islam, Aceh dan pengorbanan orang tuanya,” ungkapnya.[]

Artikel ini sudang tayang di Acehtrend dengan judul “Begini Kata Ulama Cara Mencegah Prostitusi di Aceh“.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *