Waw, Inilah 3 Tradisi Unik dan Menarik yang Hanya Ada di Aceh

Aceh, dengan serambi Mekkahnya memiliki keunikan dalam tradisi-tradisinya. Menariknya, keunikan-keunikannya sangat berbeda, dan seperti tidak ditemukan di tempat-tempat atau di daerah-daerah lain.

Pertautan antara keagamaannya, dalam hal ini agama Islam, dan adat istiadat atau tradisi leluhur yang kental, membuat keunikan tersebut menjadi menarik diketahui dan diikuti serta diambil sari maknanya.

Penggabungan antara tradisi leluhur atau adat istiadat setempat, dengan agama Islam dengan tradisi-tradisi keagamaannya, sungguh memotretkan tentang tingginya nilai-nilai religius yang dimiliki masyarakat Aceh.

Bagaimana kita melihat itu? Di bawah ini dipaparkan 3 tradisi yang unik di Aceh yang menarik disimak.

1. Peusijuek

peusijuk

Dalam bahasa Aceh Peusijuk terdiri dari dua kata, yaitu peu dan sijuek. Jika ditilik lebih lanjut, peu dalam kata peusijuk bukanlah kata yang bisa dipisahkan, karena peu di sini bermaksa sebagai awalan untuk kata sijuek. Sijuek berarti dingin.

Jadi, jika digabung dengan awalan peu, artinya adalah pendingin atau membuat sesuatu menjadi dingin.

Tujuan Peusijuk sebenarnya adalah untuk memberkati sesuatu termasuk di dalamnya mendoakan orang akan dipeusijuk. Secara makna yang lebih luas, Peusijuek adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Misalnya, Peusijuek pada kenduri perkawinan, kenduri sunatan, saat ada seseorang yang hendak berangkat haji, peusijuek hewan kurban, peusijuek rumah atau kendaraan baru dan berbagai upacara lainnya yang sering terjadi dalam masyarakat Aceh.

Secara umum, biasanya Peusijuek dilakukan oleh orang-orang yang sudah agak berumur dan dihormati biasanya disebut dengan Tengku. Tengku adalah sebutan untuk pemuka agama.

2. Kuah Beulangong

kuah beulangong

Beulangong atau belanga besar adalah sebutan untuk kuali besar yang ukuran diameternya bisa mencapai satu meter. Di dalam wadah besar itu, dimasaklah daging kambing dengan campuran pisang atau nangka. Lalu diramu bersama bumbu dari rempah-rempah Aceh yang khas.

Kayu-kayu bakar menyala di bawah belanga besar ini. Kuah Beulangong sebenarnya hanya daging sapi atau kambing yang dimasak dalam belanga besar, kemudian dimakan bersama-sama oleh masyarakat.

Masyarakat di pedesaan khususnya di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar hingga saat ini masih melaksanakan kegiatan tersebut secara turun-temurun.

Kuah Beulangong juga akan ditemui saat-saat kenduri di rumah masyarakat, baik pesta perkawinan, syukuran, maupun saat mendoakan orang yang telah meninggal.

3. Kenduri Blang

khanduri blang

Kenduri Blang atau kenduri jak u blang (kenduri sebelum menanam pagi) merupakan salah satu adat dan budaya masyarakat yang dilakukan sebelum turun sawah.

Tradisi ini sudah ada sejak dahulu dilakukan oleh masyarakat Aceh ketika akan turun sawah atau memasuki masa menanam padi, yang bertujuan untuk memohon doa demi keselamatan tanaman padi dari segala hama dan penyakit.

Selain itu, kenduri blang juga bertujuan memohon kepada Allah SWT. supaya mendapatkan hasil panen melimpah ruah.

Lazimnya sebelum kenduri dimakan bersama, kepala gampong memberikan petunjuk-petunjuk yang dibolehkan atau yang menjadi larangan (pantang blang) kepada masyarakat yang hadir.

Tradisi ini sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Bireuen, Aceh Utara, dan wilayah lainnya di Aceh.

Nah, itulah informasi mengenai kebudayaan unik yang dijadikan tradisi turun-menurun dari masyarakat di Aceh yang hingga kini tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *