Khidmatnya Ritual Jalan Salib di Kota “Syariat Islam” Banda Aceh

BANDA ACEH – Seorang pemuda berambut panjang, menggunakan pakaian putih memanjang memanggul salib di pundaknya. Rambutnya yang panjang sebahu semakin kumal, darah segara keluar dari mulutnya setelah mendapatkan cambukan dari 5 algojo kerajaan.

Sedangkan puluhan lainnya terus melempar ‘batu’ yang terbuat dari kertas dan meneriakkan agar pemuda tersebut disalib, karena dia mengaku raja. Algojo pun terus mencambuk, meskipun pemuda tersebut terus mengerang kesakitan.

Pemuda itu sedang berperan sebagai Yesus dalam ritual jalan salib di Gereja Hati Kudus, Kota Banda Aceh. Dalam bahasa latin disebutkan Cia Crucis atau Via Dolorosa (jalan penderitaan) Jumat (30/3/2018) dimulai pada pukul 09.30 Wib kemarin.

Seluruh pengunjung, yaitu jamaat Gereja tersebut terlihat khidmat mengikuti ritual jalan salib. Pengunjung juga sesekali duduk jongkok menghormati Yesus Kristus yang dipimpin oleh Pastor Gereja Hati Kudus Romo Efran Sinaga.

Dalam aksi teaterikal jalan penderitaan ini terlihat pemuda yang berperan sebagai Yesus itu melakoni dengan penuh kejiwaan. Saat algojo menggiring pemuda tersebut dengan memanggul salib, beberapa kali terjatuh.

Algojo pun langsung meminta pemuda tersebut agar bangun sambil beberapa kali mencambuk. Pemuda itu pun kembali bangkit dengan tertatih-tatih sembari memanggul salib tersebut.

Sampai perempat jalan, sebelum sampai ke lokasi tempat disalib. Seorang petani yang berdiri sebelah kiri pemuda itu diminta oleh algojo untuk memanggul salib. Karena pemuda yang berperan sebagai Yesus sudah kelelahan dan lemas.

Darah segar terus mengucurkan dari mulut, demikian juga baju sebelumnya berwarna putih sudah berubah menjadi merah. Tentunya ini hanya aksi teaterikal semata, darah tersebut merupakan campuran zat pewarna dalam aksi teaterikal jalan salib tersebut.

Ibadat Jalan Salib ini disajikan di Gereja Hati Kudus dalam bentuk drama liturgi yang dikemas dalam 14 stasi atau penghentian. Diawali dari penderitaan Yesus saat ditangkap dan ditahan oleh Pengadilan Agama Pilatus yang dihukum mati.

Kemudian dilanjutkan dengan memanggul salib di pundaknya dan sedikitnya ada 3 kali terjatuh dengan salib di pundaknya. Yesus juga sempat bertemu dengan ibunya dan bahkan sempat ditolong oleh Simon dari Krinie dan bahkan sempat diusap oleh Veronika.

Lalu Yesus jatuh kedua kalinya dan sempat menghibur perempuan-perempuan yang menangisinya, dan Yesus pun kembali jatuh yang ketiga kali dan kemudian baju Yesus ditanggalkan untuk di salibkan. Lantas dalam ritual itu Yesus-pun wafat di kayu salib, kemudian diturunkan dari kayu salib dan langsung dimakamkan.

Menurut literatur sejarah, Ibadat Jalan Salib ini dilakukan sejak abad ke-14 yang diperkenalkan oleh biarawan dari Ordo Fransiska. Pada abad ke 18, Paus Klemens XII, menetapkan jumlah dan lokasi penghentian jalan salib secara definitif sampai sekarang.

Ritual jalan salib ini pun berakhir dengan doa dan salam-salaman yang dipimpin oleh pastor Romo Efran Sinaga. Mereka berdoa untuk keselamatan dan kemudian membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing.

Tanggapan Warga Banda Aceh

Gereja Hati Kudus ini hanya berjarak sekitar 700 m dari Masjid Raya Band Aceh, Kliksatu.co.id sempat mewawancara beberapa orang yang lewat disekitaran gereja. Mereka terlihat santai dan tak terganggu sedikit pun dengan kegiatan keagamaan itu.

“Kita selaku muslim menghormatilah kawan-kawan Kristiani beribadah, Aceh sangat toleran terhadap pemeluk agama lain. Bahkan saat konflik pun, mereka sangat aman beribadah di Aceh,” kata seorang warga, Halim Mauluddin, kepada Kliksatu.co.id.

Hal senada disampaikan oleh Ikhsan, dia menyebutkan, Banda Aceh sejak dulu dikenal kota toleran. Seperti halnya kota tua Peunayong terdapat berbagai rumah ibadah gereja dan vihara di berbagai tempat. Etnis Tionghoa banyak menganut agama Budha, Protestan, Katolik dan juga Islam.

“Semuanya berlangsung baik dan penuh kedamaian. Warga Peunayong dengan bebas dapat melaksanakan ibadah tanpa hambatan dan rintangan, semuanya berlangsung dengan baik damai dan nyaman,” ungkap Ikhsan yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PII Aceh. []

Sumber : kliksatu.co.id

Satu tanggapan untuk “Khidmatnya Ritual Jalan Salib di Kota “Syariat Islam” Banda Aceh

  • April 2, 2018 pada 1:55 am
    Permalink

    Sebenarnya tidak ada masalah mereka yg kristiani melaksanakan ritual ibadah mereka sendiri. Yg penting tidak menganggu umat islam dan tidak masuk dalam ranah syariat islam. Cm saya melihat, yg jd MASALAH BESARNYA adalah media yg mengangkat berita ini dengan JUDUL yg berbau provokatif. Mungkin biar punya nilai jual atau memang ada maksud provokasi ddlamnya. Sebaiknya media lbh selektif lg dlm menentukan judul berita, dan pihak terkait dpt mengawasi media2 yg seperti ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *